Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Euforia Menit 119 di Rabat: Boulbina Jadi Pahlawan, Aljazair Tumbangkan Kongo 1-0 dan Tantang Nigeria di Perempat Final

 

Cairscore Aljazair menorehkan kisah dramatis di babak 16 besar Piala Afrika ketika gol telat Adil Boulbina pada menit ke-119 memastikan kemenangan 1-0 atas Republik Demokratik Kongo di Stadion Moulay El Hassan, Rabat, Selasa dini hari. Pertandingan yang sempat mengarah ke adu penalti itu berakhir dengan ledakan euforia dari mayoritas 18.837 penonton yang memadati stadion, sebagian besar pendukung Aljazair yang sejak awal mengibarkan bendera dan bernyanyi tanpa henti. Satu momen presisi dan keberanian dari penyerang muda yang merumput di Qatar tersebut mengubah alur malam yang menegang menjadi perayaan penuh sukacita.

Dalam duel yang mempertemukan dua kekuatan tradisional Afrika, ekspektasi publik mengarah pada laga yang berintensitas tinggi dengan kualitas teknik yang menonjol. Realitas di lapangan memperlihatkan tensi, disiplin, dan organisasi permainan yang rapi, namun kedua tim kerap kekurangan ketajaman di sepertiga akhir. Aljazair, juara Piala Afrika 2019 dan penyapu bersih fase grup turnamen tahun ini, sejak awal mencoba mengontrol tempo lewat sirkulasi bola yang sabar dan variasi serangan dari sayap. Kombinasi itu beberapa kali menciptakan ruang, meski tidak selalu berbuah peluang bersih. Riyad Mahrez, sang kapten, dan gelandang muda Ibrahim Maza menjadi figur penting dalam fase awal, tetapi keduanya tidak menyelesaikan 90 menit penuh atas pilihan taktis pelatih Vladimir Petkovic untuk menjaga intensitas dan ritme tim hingga babak tambahan.

Republik Demokratik Kongo merespons dengan skema yang pragmatis dan efektif. Blok pertahanan mereka solid, garis tengah disiplin dalam menutup jalur umpan, dan transisi mereka cukup berbahaya saat menemukan ruang di belakang. Peluang terbaik pasukan Leopards di babak pertama datang dari situasi bola mati ketika bek Burnley, Axel Tuanzebe, menyundul bola yang hanya melebar tipis dari gawang Aljazair. Sebelumnya, Maza membalas dengan tembakan mendatar dari tepi kotak yang juga melintas tipis di sisi gawang Lionel Mpasi, menegaskan bahwa pertandingan berjalan rapat dan menuntut akurasi pada momen kecil.

Memasuki paruh kedua, intensitas meningkat tanpa banyak kelonggaran di area berbahaya. Serangan Kongo dari jarak jauh menjadi ancaman saat Edo Kayembe melepaskan sepakan kencang yang memaksa Luca Zidane melakukan penyelamatan gemilang. Refleks kiper Aljazair tersebut menjaga skor tetap kacamata dan memberi napas tambahan bagi rekan setimnya untuk kembali membangun serangan. Aljazair merespons dengan meningkatkan kecepatan sirkulasi di sayap dan memperbanyak pergerakan vertikal dari lini kedua, namun rapatnya garis belakang Kongo—dikawal Mpasi yang sigap—membuat upaya-upaya itu teredam.

Ketika 90 menit tak memisahkan keduanya, babak tambahan dihadiri oleh kelelahan yang mulai tampak, tetapi juga keputusan-keputusan kunci dari bangku cadangan. Petkovic menambah energi dan ide baru dari pemain pengganti, sebuah langkah yang perlahan mengubah arah pertandingan. Aljazair mulai lebih konsisten mengancam dan menumpuk pemain di sekitar kotak penalti Kongo. Pada menit ke-111, dua peluang beruntun lahir—Fares Chaibi memaksa Mpasi melakukan tepisan penting, dan beberapa detik berselang Baghdad Bounedjah diuji dengan ruang sempit namun kembali ditolak oleh refleks cepat sang kiper. Pada titik itu, adu penalti tampak menjadi akhir yang paling mungkin, mengingat kecermatan kedua tim dalam bertahan.

Namun, sepak bola selalu menyisakan ruang bagi pahlawan baru. Masuk di babak kedua perpanjangan waktu, Ramiz Zerrouki dan Adil Boulbina membawa pengaruh instan. Zerrouki, yang dikenal dengan visi dan umpan progresifnya, melihat celah di sisi kiri pertahanan Kongo yang sesaat terbuka. Sebuah umpan tembus brilian dilepaskannya tepat ke jalur lari Boulbina. Penyerang berusia 22 tahun milik Al-Duhail itu berlari lepas di sisi kiri, menguasai bola dengan satu sentuhan untuk mengatur sudut, lalu menusuk ke dalam area penalti. Dalam sepersekian detik yang penuh tekanan, ia melepaskan tendangan keras yang tak mampu diantisipasi Mpasi. Bola merobek jala, tribun meledak, dan pemain Aljazair mengerubungi sang pencetak gol—sebuah klimaks yang menghapus ketegangan 118 menit sebelumnya.

Gol itu bukan hanya angka di papan skor, melainkan rangkuman dari keberanian taktis dan kualitas individu yang tepat pada waktunya. Bagi Boulbina, ini adalah momen yang bisa mendefinisikan karier internasionalnya; bagi Aljazair, ini adalah tiket menuju perempat final yang terasa sah—hasil dari kesabaran, disiplin, serta keyakinan untuk terus mendorong hingga peluit terakhir. Bagi Kongo, hasil ini menyakitkan, terlebih mereka datang dengan ambisi besar dan harapan untuk kembali berhadapan dengan Nigeria, tim yang mereka singkirkan lewat adu penalti pada play-off kualifikasi Piala Dunia November lalu. Organisasi permainan mereka sepanjang laga patut diapresiasi, begitu pula kinerja Mpasi di bawah mistar, namun satu momen lengah di menit-menit kritis terbukti menjadi perbedaan antara melaju dan tersingkir.

Kemenangan ini kian memantapkan Aljazair sebagai kandidat serius untuk meraih gelar kontinental ketiga mereka. Setelah menyapu bersih fase grup, mereka kini menatap perempat final melawan Nigeria di Marrakesh pada Sabtu mendatang—laga yang diperkirakan berlangsung ketat mengingat Super Eagles diperkuat ujung tombak tajam Victor Osimhen. Pertandingan tersebut akan menjadi ujian penting bagi struktur pertahanan Aljazair dan efektivitas transisi mereka, seraya mengandalkan kreativitas lini tengah serta momentum positif yang lahir dari kemenangan dramatis di Rabat.

Bagi Kongo, perjalanan di Piala Afrika berakhir, tetapi secercah harapan tetap menyala. Mereka masih berkesempatan merebut tiket ke Piala Dunia pertama sejak 1974 melalui play-off antarbenua pada Maret mendatang, menghadapi Kaledonia Baru atau Jamaika. Ini bukan pelipur lara instan, namun merupakan target besar yang bisa menyatukan skuad dan menjaga intensitas persiapan mereka dalam beberapa bulan ke depan. Di sisi lain, Aljazair—yang telah memastikan tempat di putaran final di Amerika Utara—memilih untuk tidak teralihkan fokusnya. Target jangka dekat jelas: kembali ke final di Maroko dan memanfaatkan pengalaman, kedalaman skuad, serta ledakan kualitas individu untuk melenggang sejauh mungkin.

Akhirnya, malam di Rabat mengajarkan kembali bahwa turnamen besar sering ditentukan oleh detail: tepisan kiper yang menjaga asa, umpan yang menembus dua garis pertahanan, dan tembakan yang datang pada detik ketika semua bersiap untuk babak adu nasib. Aljazair menemukan detail itu pada menit ke-119 lewat kaki Adil Boulbina. Dari stadion yang menggema oleh nyanyian dan pekik lega, mereka melangkah ke Marrakesh dengan keyakinan baru dan tantangan yang lebih berat menanti di depan.

HOT NEWS

TRENDING

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan…

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan…

Badai Rojiblanco: Atletico Libas Barcelona 4-0 di Leg Pertama Semifinal Copa del…

Sundulan Emas Van Dijk Patahkan Rekor Kandang Sunderland, Harapan Liga Champions Liverpool…

Musim Jack Grealish Berakhir Usai Operasi Kaki, Pukulan bagi Everton dan Asa…

Scroll to Top