Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Ancelotti Menatap Los Angeles 2028 untuk Menyusun Wajah Baru Brasil Menuju Piala Dunia 2030

 

Cairscore Carlo Ancelotti masih membawa sisa rasa pahit dari langkah Brasil yang terhenti di babak 16 besar Piala Dunia setelah kalah dari Norwegia. Kekalahan itu belum sepenuhnya berlalu dari pikirannya. Namun, di tengah proses pemulihan dari hasil yang mengecewakan tersebut, pelatih asal Italia berusia 67 tahun itu mulai mengalihkan pandangan jauh ke depan, ke sebuah titik yang menurutnya bisa sangat menentukan bagi masa depan tim nasional Brasil: Olimpiade Los Angeles 2028.

Bagi Ancelotti, empat tahun ke depan bukan sekadar jeda menuju turnamen besar berikutnya, melainkan masa penting untuk membangun ulang fondasi tim yang diharapkan mampu membawa Brasil menuju Piala Dunia 2030 dengan wajah yang lebih matang, lebih segar, dan lebih siap bersaing. Ia menegaskan bahwa Olimpiade bisa menjadi panggung penting untuk mengamati para pemain muda, terutama mereka yang datang dari kelompok usia junior dan skuad yang akan mewakili negaranya di Los Angeles. Dari sanalah, menurutnya, proses pembaruan tim dapat dipandu dengan lebih jelas.

Berbicara di museum konfederasi, tempat sebagian besar trofi tim nasional Brasil disimpan, Ancelotti menjelaskan bahwa Brasil tidak perlu meniru Spanyol sebagai juara bertahan atau Prancis yang tetap tampil kuat hanya untuk mengejar gelar dunia keenam. Menurutnya, arah yang harus ditempuh bukanlah peniruan, melainkan pembelajaran yang jujur terhadap area-area yang masih bisa diperbaiki. Ia mengatakan bahwa beberapa posisi sudah terisi dengan baik, baik di lini pertahanan maupun lini depan. Fokus pencarian peningkatan, katanya, ada di sektor gelandang, dan di situlah Olimpiade bisa menjadi momen penting untuk menemukan sosok-sosok yang diperlukan.

Sesampainya kembali di Brasil pada hari Minggu, Ancelotti mengaku banyak mendengar kembali kisah final medali emas Olimpiade Tokyo. Lima tahun lalu, Brasil mengalahkan Spanyol dengan skor 2-1 dan berhasil mempertahankan gelarnya. Kenangan itu kini terdengar lebih relevan karena perkembangan yang terjadi setelahnya. Delapan pemain Spanyol yang tampil dalam pertandingan tersebut, ditambah pelatih Luis de La Fuente, kini telah menjadi juara Piala Dunia. Sementara itu, dari pihak Brasil, hanya gelandang Bruno Guimaraes dan penyerang Matheus Cunha yang kemudian dibawa ke Piala Dunia 2026. Perbandingan itu seolah mempertegas satu hal yang kini menjadi perhatian utama Ancelotti: bagaimana menjembatani sukses di level usia muda dengan kesinambungan di tim senior.

Karena itulah, ia menekankan pentingnya hubungan yang terus dijaga dengan para pelatih kelompok usia. Ancelotti mengatakan bahwa pihaknya berkomunikasi dengan pelatih U-15, U-17, dan U-20 untuk mengidentifikasi bakat, memantau perkembangan mereka, dan memastikan bahwa para pemain itu benar-benar dipersiapkan untuk Piala Dunia berikutnya. Ia memberi contoh Rayan, yang empat tahun lalu masih bermain di level U-17. Bagi Ancelotti, memperhatikan perkembangan pemain muda dari sekarang adalah langkah yang sangat penting agar pada 2030 Brasil memiliki generasi baru yang berkembang dengan baik seperti dirinya.

Pandangan semacam ini mungkin tidak langsung memuaskan semua penggemar Brasil. Di negeri yang terbiasa hidup dengan ekspektasi tinggi terhadap sepak bola, kesabaran kerap menjadi barang langka. Publik sering berharap bintang-bintang mereka langsung menghadirkan hasil, dan para pemain diharapkan menjadi tokoh utama di mana pun mereka tampil. Namun, Ancelotti justru memilih pendekatan yang berbeda. Ia menegaskan bahwa sepak bola saat ini tidak lagi menuntut keberadaan satu bintang tunggal sebagai pusat segalanya. Yang lebih dibutuhkan, menurutnya, adalah penguatan konsep tim.

Dalam pandangannya, Brasil saat ini tidak memiliki satu titik acuan tunggal, dan itu bukan sesuatu yang harus disesali. Sebaliknya, kondisi itu bisa menjadi dasar untuk membangun sesuatu yang lebih kolektif. Ia menilai Brasil memiliki banyak pemain hebat. Tantangan sesungguhnya bukan memilih satu nama untuk dijadikan poros, melainkan membentuk tim yang kuat dan kohesif, sebuah kesatuan yang bekerja dengan padu alih-alih bertumpu pada satu sosok.

Siklus baru itu akan dimulai dalam waktu dekat. Tiga pertandingan persahabatan telah menunggu, dua melawan Australia pada bulan September dan satu lagi menghadapi India pada bulan Oktober. Rangkaian laga tersebut akan menjadi langkah awal bagi pelatih asing penuh waktu pertama Brasil untuk membentuk tim menurut visinya sendiri. Ancelotti memahami benar bahwa tekanan tidak akan berkurang, setidaknya hingga Copa America 2028. Tetapi justru dalam tekanan itulah ia melihat ruang untuk mulai merangkai komposisi tim masa depan. Menurutnya, gabungan pemain yang mampu lolos ke turnamen kontinental dan para pemain muda yang berangkat ke Los Angeles bisa saja menjadi bagian dari daftar skuad Brasil untuk Piala Dunia 2030.

Di tengah pembicaraan tentang masa depan itu, satu nama besar juga ikut berada dalam sorotan: Neymar. Penyerang berusia 34 tahun tersebut sempat masuk dalam skuad Ancelotti untuk turnamen musim panas ini, meskipun sejak awal ada keraguan serius mengenai kondisi kebugarannya. Namun untuk rencana jangka panjang, Neymar tidak lagi berada dalam proyeksi sang pelatih. Sang bintang sendiri pada awal pekan ini telah mengulang pernyataannya bahwa ia merasa waktunya bersama tim nasional sudah berakhir.

Ancelotti menanggapi situasi itu dengan nada yang tenang dan penuh penghargaan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan alami seorang talenta besar seperti Neymar, sebagaimana halnya pemain-pemain lain yang pada akhirnya menutup fase penting bersama tim nasional. Meski waktu kebersamaan mereka tidak panjang, Ancelotti mengatakan bahwa ia hanya memiliki hal-hal baik untuk disampaikan tentang Neymar. Ia menilai sang pemain serius, profesional, dan selalu berusaha membantu dengan cara apa pun yang ia bisa. Menurut Ancelotti, sangat disayangkan cedera membuat Neymar tidak pernah benar-benar bisa mencapai kondisi seratus persen bugar sejak pertandingan pertama.

Komitmen Ancelotti terhadap Brasil juga menjadi pembahasan tersendiri. Ia mengatakan bahwa keputusannya untuk melatih Brasil hingga 2030 dan menolak tawaran dari federasi sepak bola Italia untuk menangani tim nasional negaranya sendiri tidak berhubungan dengan kontrak, melainkan dengan komitmen. Di Italia, para eksekutif sepak bola memang menyebut namanya sempat dipertimbangkan untuk posisi tersebut. Namun pada akhirnya, jabatan itu sekali lagi diberikan kepada Roberto Mancini.

Bagi Ancelotti, yang lebih penting adalah hubungan yang telah terbangun dengan Brasil. Ia mengatakan bahwa konfederasi sepak bola Brasil selalu mendukungnya, terutama setelah kekalahan dari Norwegia. Dengan bahasa Portugis yang terus membaik, yang ia pelajari melalui bantuan seorang guru dan juga aplikasi bahasa, Ancelotti mengungkapkan bahwa komitmennya lahir dari sambutan yang ia terima di Brasil sepanjang tahun ini. Dalam kalimat itu, terasa bahwa masa depannya bersama Selecao tidak semata-mata ditentukan oleh hasil, tetapi juga oleh ikatan kepercayaan yang tumbuh di tengah masa sulit.

Ancelotti tentu bukan orang asing bagi rasa sakit di panggung terbesar sepak bola. Ia pernah mengalami kekalahan di final Piala Dunia bersama Italia, saat Azzurri kalah dari Brasil lewat adu penalti pada 1994, ketika ia bertugas sebagai asisten pelatih. Namun, menurutnya, kekalahan kali ini terasa lebih menyakitkan. Meski demikian, rasa sakit itu pada saat yang sama juga membuka cara pandangnya terhadap tahun 2030.

Ia mengakui bahwa ini adalah masa yang sulit untuk mencerna kekalahan tersebut. Di level klub, katanya, ia terbiasa dengan kekalahan karena kesempatan untuk membalas biasanya datang lebih cepat. Di tim nasional, situasinya berbeda. Ia harus menunggu. Ada jeda panjang yang membuat hasil buruk tinggal lebih lama dalam pikiran. Kadang-kadang, ia mengaku, kekalahan ini terus muncul dalam benaknya lebih sering daripada biasanya.

Meski begitu, Ancelotti tidak ingin berhenti di sana. Ia mengatakan bahwa seseorang harus memiliki kekuatan untuk melihat ke belakang sekaligus menatap ke depan. Dan seiring berjalannya waktu, ia merasa dirinya kini lebih banyak memikirkan masa depan daripada masa lalu. Dari sanalah arah kerja Brasil tampaknya akan dibentuk: bukan lewat penolakan terhadap luka kekalahan, melainkan melalui kesediaan untuk belajar darinya, merawat generasi muda, dan menjadikan Los Angeles 2028 sebagai salah satu pijakan penting menuju upaya baru merebut mahkota dunia pada 2030.

 

HOT NEWS

TRENDING

Arteta Jaga Ketenangan Arsenal di Tengah Rumor Ezri Konsa Jelang Pembuka Premier…

Jeremy Doku Ikat Masa Depan di Man City hingga 2031, Era Enzo…

Arsenal Disebut Capai Kesepakatan £75 Juta untuk Bruno Guimaraes

Manchester United Wanita Berpisah dengan Marc Skinner Jelang Musim Baru

Brentford Pecahkan Rekor Klub untuk Boyong Mamadou Sangare dari Lens

Scroll to Top