Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

AFC Gabung Lawan Rencana Investasi Swasta FIFA, Tekanan terhadap Infantino Kian Menguat

 

Cairscore – Penolakan terhadap rencana FIFA dan presidennya, Gianni Infantino, untuk membuka jalan bagi investasi swasta di aset-aset utama sepak bola dunia kini semakin meluas. Pada Jumat, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara terbuka menyatakan bergabung dalam barisan penentang proposal tersebut, sekaligus menegaskan bahwa FIFA perlu segera meninjau kembali gaya manajemen serta cara pengambilan keputusannya. Sikap itu menandai babak baru dalam memanasnya ketegangan di tubuh sepak bola internasional, setelah sebelumnya UEFA di Eropa dan CONCACAF di kawasan Amerika Utara lebih dulu mengancam akan memboikot kompetisi FIFA.

Dalam pernyataannya, AFC mengatakan pihaknya “berdiri dalam solidaritas” dengan UEFA dan CONCACAF. Kedua konfederasi itu pada Kamis menyampaikan penolakan tegas terhadap tawaran dari Infantino, yakni pembayaran satu kali sebesar 20 juta dolar AS kepada masing-masing federasi anggota. Penolakan tersebut tidak hanya menunjukkan keberatan terhadap nilai atau bentuk tawaran itu, tetapi juga memperlihatkan penentangan yang lebih luas terhadap arah kebijakan FIFA terkait masa depan bisnis komersialnya.

AFC, yang menaungi 46 dari total 211 federasi anggota FIFA, menilai situasi ini tidak seharusnya terjadi dalam sepak bola. Dalam pernyataan resminya, badan sepak bola Asia itu menegaskan bahwa “sepak bola seharusnya tidak pernah ditempatkan dalam posisi seperti itu.” Pernyataan tersebut juga menyoroti adanya tenggat waktu yang diberikan Infantino, yakni hingga 19 September, bagi para anggota untuk menerima tawaran pembayaran 20 juta dolar AS tersebut. Bagi AFC, cara seperti ini justru memperuncing keresahan yang sudah muncul akibat minimnya kesepahaman dan konsultasi yang memadai.

Di pusat kontroversi ini adalah usulan Infantino untuk memisahkan bisnis komersial FIFA ke dalam sebuah entitas anak perusahaan. Aset yang akan dimasukkan ke dalam struktur baru itu mencakup kompetisi-kompetisi terbesar FIFA, termasuk Piala Dunia serta Piala Dunia Klub untuk kategori pria dan wanita. Nilai entitas tersebut disebut mencapai 20 miliar dolar AS, dengan 20 persen sahamnya direncanakan dimiliki oleh investor swasta. Skema inilah yang memicu penolakan luas karena dinilai menyangkut masa depan kendali atas turnamen-turnamen paling penting dalam sepak bola dunia.

FIFA sendiri menggambarkan pihak yang akan menjadi “investor utama” sebagai sebuah perusahaan investasi yang berbasis di New York. Perusahaan itu didirikan oleh Joshua Kushner, yang dikenal sebagai adik laki-laki Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penyebutan identitas investor ini menambah sorotan terhadap proposal tersebut, yang sejak awal sudah dipenuhi pertanyaan mengenai transparansi, proses konsultasi, dan arah strategis FIFA ke depan.

Bagi AFC, persoalan utama bukan semata-mata terletak pada struktur investasi atau angka valuasi yang diajukan. Konfederasi itu menilai usulan yang disebut sebagai FIFA Forward Enterprise “secara realistis tidak dapat mencapai konsensus dan persatuan luas yang diperlukan untuk bergerak maju.” Karena itu, AFC meminta agar proposal tersebut dipertimbangkan kembali. Dengan kata lain, AFC menilai dasar dukungan yang dibutuhkan untuk menjalankan kebijakan sebesar ini tidak tersedia, dan memaksakan proses hanya akan memperdalam perpecahan di antara anggota FIFA.

Meski tidak secara langsung menyebut nama Gianni Infantino, pernyataan AFC jelas memperlihatkan kritik yang diarahkan kepada kepemimpinan FIFA. Kritik itu tidak berhenti pada isi proposal ekuitas swasta, tetapi juga menjangkau cara FIFA menangani pembahasan rencana tersebut. AFC menyinggung kegagalan konsultasi atas proposal rahasia yang baru terungkap pada Selasa melalui laporan media. Dari sudut pandang AFC, persoalan ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi lebih mendasar daripada sekadar pro-kontra atas satu proyek bisnis.

AFC menyatakan bahwa yang terjadi justru telah membuka “kelemahan mendasar” dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA. Menurut konfederasi itu, kelemahan tersebut kini harus segera diatasi. Karena itulah AFC menyerukan peninjauan mendesak terhadap kerangka tata kelola dan pengambilan keputusan di tubuh FIFA. Seruan ini memperlihatkan bahwa kontroversi soal investasi swasta kini telah berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap cara organisasi sepak bola dunia itu dijalankan.

Pernyataan AFC itu muncul hanya beberapa jam setelah FIFA menyampaikan pembelaan atas proyek yang sedang dipersoalkan. Pada Jumat pagi, FIFA justru menyalahkan media dan menegaskan akan tetap melanjutkan proses tersebut. Menurut FIFA, rencana konsultasi yang mereka susun telah terganggu oleh laporan media yang tidak benar. Dalam pernyataannya, FIFA mengatakan akan meneruskan proses konsultasi itu untuk memastikan bahwa setiap anggota memiliki kesempatan menyampaikan suaranya berdasarkan fakta.

Namun, pembelaan tersebut datang ketika proyek itu tampak semakin kehilangan dukungan. Berdasarkan situasi yang tergambar dalam sumber ini, mayoritas dari 211 anggota FIFA kini tampaknya berada di pihak yang menentang. Dengan AFC ikut menyatakan solidaritas kepada UEFA dan CONCACAF, tekanan terhadap FIFA dan Infantino menjadi jauh lebih berat. Penolakan tidak lagi datang dari satu kawasan tertentu, melainkan dari blok-blok besar dalam sepak bola internasional yang memiliki pengaruh luas di dalam organisasi.

Ancaman boikot juga membuat ketegangan ini tidak berhenti pada level perdebatan administratif atau bisnis. Acara FIFA berikutnya yang disebut berpotensi menjadi sasaran boikot dari Eropa akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan, yakni Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia yang dimulai pada 5 September. Bayang-bayang boikot terhadap turnamen tersebut menunjukkan bahwa sengketa mengenai proposal investasi swasta ini sudah berpotensi menjalar langsung ke agenda kompetisi FIFA.

Dalam perkembangan lain yang tetap terkait dengan dinamika kekuasaan di tubuh sepak bola internasional, empat federasi Inggris disebut sebagai satu-satunya penawar FIFA untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2035. Keputusan mengenai hal itu dijadwalkan akan diambil pada 23 November. Rincian ini menambah konteks penting terhadap situasi yang sedang berlangsung, karena memperlihatkan bahwa hubungan antara FIFA dan federasi-federasi anggotanya sedang berada dalam fase sensitif di tengah sejumlah agenda besar organisasi.

Diperbarui pada 31 Juli 2026, perkembangan ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap rencana investasi swasta FIFA bukan lagi sekadar keberatan biasa, melainkan telah berubah menjadi krisis kepercayaan yang menyentuh inti tata kelola organisasi. AFC, dengan menyatakan solidaritas kepada UEFA dan CONCACAF, tidak hanya menambah jumlah pihak yang menolak, tetapi juga memperkuat pesan bahwa langkah sepenting ini tidak bisa dijalankan tanpa dukungan luas, proses konsultasi yang meyakinkan, dan mekanisme pengambilan keputusan yang dinilai sah oleh para anggota. Untuk saat ini, alih-alih meredakan situasi, respons FIFA justru berhadapan dengan gelombang penolakan yang kian terorganisasi dan semakin sulit diabaikan.

HOT NEWS

TRENDING

Arteta Jaga Ketenangan Arsenal di Tengah Rumor Ezri Konsa Jelang Pembuka Premier…

Jeremy Doku Ikat Masa Depan di Man City hingga 2031, Era Enzo…

Arsenal Disebut Capai Kesepakatan £75 Juta untuk Bruno Guimaraes

Manchester United Wanita Berpisah dengan Marc Skinner Jelang Musim Baru

Brentford Pecahkan Rekor Klub untuk Boyong Mamadou Sangare dari Lens

Scroll to Top