Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Atletico Tertahan di Jan Breydel: Drama Enam Gol, VAR, dan Keunggulan yang Menguap Jadi 3-3 Kontra Brugge

 

Cairscore Atletico Madrid melewati malam yang mendebarkan dan melelahkan di Stadion Jan Breydel, membawa pulang hasil imbang 3-3 yang terasa pahit setelah dua kali membiarkan keunggulan lepas dalam leg pertama play-off Liga Champions melawan Club Brugge. Dalam laga yang berayun seperti bandul—dari dominasi efisien ke hilangnya kontrol, dari euforia singkat ke kecemasan di menit akhir—tim Diego Simeone mencetak dua gol lebih dulu, melihat lawan menyamakan, kembali memimpin akibat gol bunuh diri, lalu kebobolan penyeimbang di menit ke-90 yang sempat dianulir sebelum disahkan VAR. Segalanya tetap terbuka lebar jelang leg kedua pekan depan, dengan tiket babak 16 besar sebagai taruhannya.

Pertandingan dimulai dengan tempo tinggi, Brugge tampil berani di hadapan dukungan publik sendiri, memaksa Atletico lebih sering bertahan blok menengah dan menunggu momen transisi. Namun justru tim tamu yang memecah kebuntuan lebih cepat. Atletico unggul setelah wasit menunjuk titik putih menyusul handball ceroboh Joaquin Seys. Julian Alvarez, yang tahun lalu terjebak dalam kontroversi penalti melawan Real Madrid—dianulir karena sentuhan ganda dan pada akhirnya ikut menyingkirkan Atletico—kali ini berdiri tegak di atas garis 11 meter. Ia mengeksekusi dengan tenang dan tegas, mengirim bola ke sudut tanpa ampun, mengubah kegagalan masa lalu menjadi pijakan untuk memimpin.

Keunggulan itu tidak membuat Brugge kehilangan akal. Tuan rumah justru menanggapi dengan ancaman beruntun. Mamadou Diakhon melepaskan tembakan yang hanya kurang beberapa sentimeter untuk menguji jala, sementara Jan Oblak menunjukkan refleks khasnya saat menepis tendangan Raphael Onyedika. Meski begitu, ketenangan Atletico pada set-piece kembali membuahkan hasil sesaat sebelum jeda. Dari sepak pojok Alvarez, Antoine Griezmann menyambar bola pertama dan membelokkannya ke area berbahaya, di mana Ademola Lookman—yang sejak kedatangannya pada Januari tampil hidup dan agresif—menyambar dari jarak dekat untuk menggandakan keunggulan. 2-0 di babak pertama, skor yang pada kertas mencerminkan efisiensi Atletico, meskipun alur permainan kerap dipaksa mengikuti gendang Brugge.

Interval sejenak memberi Brugge energi baru tanpa mengikis benteng kepercayaan diri Atletico—setidaknya sampai menit ke-52. Dari situasi udara yang semula tampak terkendali, Nicolo Tresoldi memaksa Oblak melakukan penyelamatan brilian lewat sundulan keras. Bola muntah jatuh ke jalur Onyedika yang sigap memanfaatkannya, menipiskan jarak sekaligus menyalakan bara di tribune. Stadion mendidih, irama laga meningkat, dan hanya delapan menit berselang, badai benar-benar menghantam Atletico. Diakhon menemukan ruang di sisi sayap, mengirim umpan silang mendatar yang disambut penyelesaian klinis Tresoldi. Skor 2-2, dan semua keunggulan emosional yang dibangun Atletico di babak pertama lenyap dalam sekejap.

Diego Simeone merespons dengan dorongan vertikal yang lebih cepat, mengajak barisan depan menekan lebih agresif saat Brugge mencoba membangun serangan dari belakang. Alexander Sorloth sempat mengembuskan ketegangan lewat sundulan yang melintas tipis di sisi gawang—sebuah pengingat bahwa Atletico belum selesai. Tekanan itu akhirnya berbuah, meskipun bukan lewat kaki atau kepala pemain sendiri. Joél Ordoñez, dalam upaya menghalau bola berbahaya yang dikirimkan ke jantung pertahanan, justru mengarahkan si kulit bundar ke gawangnya sendiri. Atletico kembali memimpin, dan untuk sesaat, tampak seakan mereka telah belajar dari dua kebobolan cepat: sabar dengan bola, disiplin tanpa bola, dan cerdas dalam mengelola ritme.

Namun, drama malam itu menolak berhenti. Memasuki menit ke-90, saat Atletico berusaha membekukan pertandingan di area sayap dan mengulur napas lewat sirkulasi aman, Brugge memutar arah serangan dengan determinasi terakhir. Christos Tzolis mendapat ruang di kiri, melakukan kontrol rapat, lalu melepas penyelesaian yang menaklukkan Oblak. Asisten wasit mengangkat bendera; stadion menahan napas; VAR meninjau; keputusan berbalik: gol sah. 3-3, dan sekali lagi rasa aman Atletico menguap di udara dingin Pesisir Flanders.

“Kami unggul dua gol dan tidak tahu bagaimana mempertahankan keunggulan,” keluh kapten Koke kepada Movistar setelah laga. “Ini seperti roller coaster, seperti sepanjang musim ini. Kita harus lebih berkonsentrasi.” Pernyataan itu menangkap inti problem Atletico pada malam ini: bukan soal kemampuan untuk mencetak gol atau menciptakan peluang, melainkan kegagalan merawat momentum dan menjaga struktur saat lawan menaikkan intensitas. Ketidakrapian transisi defensif, jarak antarlini yang sempat melebar, serta kecenderungan kehilangan duel kedua di area krusial, semuanya bersatu membiarkan Brugge kembali hidup—dua kali.

Bagi Brugge, hasil ini adalah ganjaran atas keberanian menekan dan keyakinan bahwa laga dua kaki selalu menyediakan babak baru untuk membalas. Bagi Atletico, yang belum pernah mengangkat trofi Liga Champions dan tengah tertinggal jauh di La Liga, jalur piala musim ini terasa seperti peluang terbaik untuk merengkuh trofi. Justru karena itu, kebocoran di lini belakang dan putusnya konsentrasi pada momen-momen kunci akan menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda. Leg kedua pada Selasa depan di Madrid menuntut versi Atletico yang lebih kejam dan lebih tenang: meminimalkan kesalahan sederhana, mengunci ruang antara bek dan gelandang, serta menjaga kepala tetap dingin saat gelombang lawan datang.

Pada akhirnya, 90 menit di Jan Breydel menyajikan semua unsur yang membuat sepak bola Eropa tak terduga: adu taktik yang dinamis, ayunan psikologis, sentuhan individual yang menentukan, dan ketegangan yang diurai VAR. Skor 3-3 adalah cermin yang jujur—Brugge berani dan pantang menyerah, Atletico mematikan di depan gawang namun rentan menjaga keunggulan. Dengan segalanya masih seimbang dan satu tiket babak 16 besar menanti, panggung di ibukota Spanyol siap untuk babak penentuan yang sama menegangkan.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Ke-90 Raul Garcia Guncang Madrid, Osasuna Hancurkan Takhta Sementara

City Makin Dekat: Dua Gol Nico O’Reilly Tekuk Newcastle, Tekanan ke Arsenal…

Atletico Tertahan di Jan Breydel: Drama Enam Gol, VAR, dan Keunggulan yang…

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan…

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan…

Scroll to Top