Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Dwigol Kane Selamatkan Inggris dari Mimpi Buruk, Three Lions Lolos dengan Napas Tersengal

 

Cairscore Harry Kane kembali menjadi penyelamat ketika Inggris nyaris terjerembap ke dalam salah satu malam paling memalukan mereka di Piala Dunia. Sang kapten mencetak dua gol di fase akhir pertandingan untuk membalikkan keadaan dan membawa Three Lions menang 2-1 atas Republik Demokratik Kongo di Atlanta, Kamis dini hari WIB, hasil yang memastikan langkah pasukan Thomas Tuchel ke babak 16 besar.

Laga yang semula diperkirakan akan menjadi jalan relatif aman bagi Inggris justru berubah menjadi ujian mental, organisasi permainan, dan ketenangan dalam tekanan. Inggris, yang datang dengan ambisi besar mengakhiri penantian 60 tahun untuk kembali menjuarai turnamen besar, sempat berada di ambang bencana setelah Brian Cipenga membawa RD Kongo unggul lebih dulu. Dalam momen ketika kejutan besar tampak benar-benar mungkin terjadi, Kane tampil pada saat yang paling dibutuhkan dan sekali lagi menegaskan nilai krusialnya bagi tim nasional.

Meski akhirnya lolos, kemenangan ini jauh dari meyakinkan. Inggris memang berhasil menghindari penghinaan dan menunda potensi salah satu kekalahan terburuk mereka di pentas Piala Dunia, tetapi performa yang mereka tampilkan akan memunculkan banyak pertanyaan. Tantangan berikutnya bahkan lebih berat, karena mereka sudah ditunggu tuan rumah bersama, Meksiko, pada babak 16 besar di Estadio Azteca, Minggu mendatang.

Bagi Kane pribadi, malam itu menjadi panggung lain untuk mempertegas statusnya sebagai mesin gol utama negaranya. Penyerang yang sudah menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris di Piala Dunia itu kini mengoleksi 13 gol di turnamen tersebut. Tambahan dua gol juga membuat total golnya pada edisi kali ini menjadi lima, menjaga posisinya tetap kuat dalam persaingan perebutan Sepatu Emas.

Di sisi lain, kekalahan ini menutup perjalanan penuh warna RD Kongo, yang kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 52 tahun. Kisah mereka sudah menjadi salah satu cerita paling menarik di turnamen ini. Sebelum beberapa pekan terakhir, tim berjuluk Leopards itu bahkan belum pernah meraih satu poin pun dan belum pernah mencetak gol di Piala Dunia. Namun kali ini mereka tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga sempat berdiri sangat dekat dengan kelolosan sensasional sebelum harapan itu dihancurkan oleh kualitas individu Kane.

Thomas Tuchel melakukan dua perubahan dari tim yang mengalahkan Panama. Declan Rice kembali mengisi lini tengah, sementara Djed Spence dimainkan sebagai bek kanan menyusul absennya Reece James dan Jarell Quansah karena cedera. Keputusan Tuchel untuk tidak membawa lebih banyak spesialis bek kanan dalam skuad berisi 26 pemain pun kembali mendapat sorotan, dan sorotan itu semakin tajam ketika sisi tersebut menjadi titik lemah yang dimanfaatkan lawan.

Gol pembuka RD Kongo lahir dari area itu. Spence terjebak di bawah umpan silang Chancel Mbemba, situasi yang membuat bola jatuh ke jalur Cipenga. Pemain sayap Almeria tersebut menuntaskan peluang dengan tembakan rendah dan keras. Meski penyelesaiannya tajam, Jordan Pickford akan merasa seharusnya bisa berbuat lebih banyak karena bola masuk di tiang dekat. Di stadion yang dipenuhi hampir 70.000 penonton dengan dominasi warna merah-putih khas Inggris, suasana mendadak senyap. Para pemain Tuchel terlihat gugup, dan ritme permainan mereka segera berubah menjadi cemas.

Ketegangan itu juga tercermin dari respons beberapa pemain kunci Inggris. Jude Bellingham menerima kartu kuning setelah melakukan tekel keras, lalu tampak terlibat adu mulut dengan Tuchel saat jeda minum di tengah babak. Situasi tersebut menggambarkan betapa berantakannya fase permainan Inggris saat tertinggal. Namun jeda itu, setidaknya, memberi Tuchel kesempatan untuk menenangkan timnya dan mencoba mengembalikan struktur yang sempat hilang.

Setelah itu, Inggris mulai menemukan sedikit pijakan. Sundulan keras Bellingham dari umpan silang Rice memaksa kiper RD Kongo, Lionel Mpasi, melakukan penyelamatan penting. Tidak lama berselang, Marcus Rashford hampir menyamakan skor, tetapi upayanya diblok tepat di garis gawang oleh Aaron Wan-Bissaka, pemain yang lahir di London, setelah pergerakan lincah Noni Madueke membongkar pertahanan lawan.

Akan tetapi, justru RD Kongo yang nyaris menambah keunggulan sebelum turun minum. Yoane Wissa, yang tiga golnya pada fase grup menjadi pendorong utama negaranya mencapai fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya, mendapatkan peluang emas dari jarak dekat. Striker Newcastle United itu tinggal menuntaskan peluang untuk menggandakan keunggulan, tetapi tembakannya hanya membentur tiang. Bila bola itu masuk, Inggris bisa saja menghadapi tugas yang nyaris mustahil pada babak kedua.

Di ujung lain lapangan, Kane sempat meluapkan frustrasinya ketika ia jatuh saat berusaha melewati Mpasi di kotak penalti, tetapi wasit menolak memberikan penalti. Penampilan Mpasi sendiri memang luar biasa sepanjang pertandingan. Kiper Le Havre itu tampil tenang dan sigap, melompat ke sisi kanan untuk menepis sundulan keras Bellingham, lalu kembali menggagalkan peluang Kane dari sepak pojok menjelang akhir babak pertama. Jika bukan karena ketangguhan Mpasi, tekanan Inggris mungkin sudah menghasilkan gol lebih awal.

Memasuki babak kedua, Inggris sempat menunjukkan niat untuk segera bangkit. Intensitas mereka meningkat dan bola lebih sering bergerak ke area sepertiga akhir. Namun seiring waktu berjalan, permainan kembali terasa tumpul. Inggris menguasai bola, tetapi kesulitan menemukan celah yang benar-benar bersih. Serangan demi serangan mulai tampak mudah dibaca, dan kepercayaan diri RD Kongo justru semakin tumbuh karena mereka merasa mampu bertahan dari tekanan.

Melihat timnya mulai kehabisan ide, Tuchel akhirnya melepaskan opsi paling ofensif dari bangku cadangan. Bukayo Saka, Anthony Gordon, dan Eberechi Eze dimasukkan untuk menambah kecepatan, kreativitas, dan variasi serangan. Langkah itu menjadi titik balik, karena Inggris akhirnya mendapat energi baru di momen yang paling menentukan.

Gordon, yang baru bergabung dengan Barcelona, langsung memberi pengaruh besar. Dari salah satu serangan yang dibangunnya, ia mengirim umpan silang yang akhirnya dimaksimalkan Kane. Sang penyerang berhasil menaklukkan Mpasi dengan sundulan menukik 15 menit sebelum waktu normal berakhir. Gol tersebut tidak hanya mengubah skor menjadi 1-1, tetapi juga menghidupkan kembali keyakinan Inggris yang sebelumnya tampak goyah.

Setelah gol penyeimbang itu, arus pertandingan berubah. RD Kongo yang sebelumnya begitu disiplin mulai dipaksa bertahan lebih dalam, sementara Inggris menyerang dengan rasa urgensi yang jauh lebih jelas. Ketika pertandingan tampak mengarah ke fase yang menegangkan, Gordon kembali menjadi penyedia momen penting. Pada menit ke-86, ia memberi assist keduanya malam itu, tetapi sentuhan penentu tetap milik Kane.

Dengan kualitas yang dimiliki penyerang kelas dunia, Kane melakukan kerja utama sendirian. Ia melepaskan tembakan keras yang melesat ke sudut atas gawang, penyelesaian yang tidak memberi peluang bagi Mpasi untuk menyelamatkan timnya kali ini. Gol itu menjadi gol internasional ke-84 Kane, sekaligus memastikan kemenangan 2-1 yang sangat melegakan bagi Inggris.

Peluit akhir menandai dua perasaan yang bertolak belakang. Di kubu Inggris, ada kelegaan besar karena mereka berhasil lolos dan menjaga mimpi tetap hidup. Namun di balik selebrasi itu, tersimpan kesadaran bahwa penampilan seperti ini bisa berakibat fatal bila diulangi pada fase berikutnya. Inggris selamat, tetapi mereka tidak sepenuhnya meyakinkan.

Bagi RD Kongo, kekalahan ini akan terasa menyakitkan karena mereka sempat sangat dekat menciptakan kejutan terbesar turnamen. Meski demikian, penampilan mereka kembali menunjukkan bahwa kehadiran mereka di Piala Dunia kali ini bukan sekadar pelengkap. Mereka bermain berani, terorganisasi, dan nyaris menyingkirkan salah satu unggulan. Perjalanan itu memang berakhir, tetapi kisah mereka tetap menjadi bagian penting dari warna turnamen.

Sementara itu, Inggris melangkah ke babak 16 besar dengan membawa dua hal sekaligus: tiket kelolosan dan daftar pekerjaan rumah. Mereka masih memiliki Harry Kane, dan pada level turnamen besar sering kali itu saja cukup untuk menjaga harapan tetap menyala. Namun bila ingin benar-benar mengakhiri penantian panjang sejak 1966, pasukan Tuchel tahu mereka harus tampil jauh lebih meyakinkan saat menghadapi Meksiko di Estadio Azteca. Kali ini Kane menyelamatkan mereka dari bencana; pada laga berikutnya, Inggris membutuhkan lebih dari sekadar penyelamatan terlambat.

HOT NEWS

TRENDING

Argentina Tundukkan Swiss 3-1 lewat Perpanjangan Waktu, Lolos ke Semifinal dan Jaga…

Crystal Palace Torehkan Sejarah Eropa, Mateta Jadi Pahlawan di Malam Perpisahan Glasner…

Dari Tempat Gelap ke Puncak Inggris: Saka dan Arsenal Akhirnya Bungkam Semua…

Gol Menit Akhir, dan Bayangan Spionase: Hull City Akhirnya Kembali ke Liga…

Aston Villa Bangkit dengan Gemilang, Hancurkan Nottingham Forest dan Melangkah Gagah Menuju…

Scroll to Top