Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Gol Menit Ke-90 Raul Garcia Guncang Madrid, Osasuna Hancurkan Takhta Sementara

 

Cairscore Real Madrid yang memimpin klasemen La Liga tersentak keras di Pamplona setelah Osasuna menuntaskan malam penuh ketegangan dengan kemenangan 2-1 berkat sepakan brilian Raul Garcia pada menit ke-90. Hasil ini bukan sekadar luka di papan skor; ini juga cambuk yang dapat mengubah dinamika perburuan gelar. Barcelona, yang tertinggal dua poin, berpeluang menyalip pada Minggu jika mampu menaklukkan Levante di Camp Nou, menempatkan tekanan psikologis tambahan pada kubu ibu kota.

Madrid yang kini diarsiteki Alvaro Arbeloa datang ke El Sadar dengan aura favorit, namun performa mereka terseok sejak awal. Fokus tim tamu seolah terbelah oleh bayang-bayang leg kedua play-off Liga Champions melawan Benfica asuhan Jose Mourinho pada Rabu mendatang. Sentuhan pertama yang kurang rapi, tempo yang tak konsisten, dan koordinasi yang kerap terlambat membuat tuan rumah berani tampil menekan. Ante Budimir menjadi duri sejak menit awal: sebuah tembakan melengkungnya nyaris menjalar ke tiang jauh gawang Thibaut Courtois, menjadi sinyal betapa merepotkannya penyerang Kroasia itu sepanjang malam.

Courtois sempat menjaga Madrid tetap bernapas dengan penyelamatan gemilang dari sundulan Budimir yang menyambar umpan silang Ruben Garcia, meski kiper Belgia itu kembali dibuat berdebar ketika sebuah tandukan lain dari Budimir menghantam tiang. Di antara momen-momen genting itu, Real jarang benar-benar menguasai keadaan. Upaya David Alaba yang menjanjikan pun diblok oleh Alejandro Catena, menambah frustrasi pasukan tamu. Tekanan Osasuna akhirnya memecah kebuntuan lewat insiden yang penuh kontroversi. Budimir merangsek ke kotak penalti dan bertumbukan dengan Courtois. Wasit sempat mengganjar Budimir kartu kuning karena menganggapnya melakukan diving, tetapi VAR membalikkan keputusan setelah menilai kaki Courtois menginjak lawannya. Dari titik putih, Budimir sendiri mengeksekusi dengan dingin, mengecoh Courtois untuk membawa Osasuna unggul dan menggetarkan El Sadar. “Saya tahu itu penalti, saya berusaha tetap tenang saat proses tinjauan,” ujar Budimir setelah laga, merangkum ketegangan yang menyelimuti stadion.

Babak kedua menampilkan wajah Osasuna yang lebih pragmatis. Mereka menurunkan blok, merapatkan jarak antarlini, dan menantang Madrid untuk memecah pertahanan mereka dengan kesabaran serta presisi. Arda Guler hampir menyamakan kedudukan lewat tembakan keras yang melayang tipis di atas mistar, sebuah peringatan bahwa Madrid mulai menemukan ritme. Arbeloa lantas menambah kreativitas dan daya dobrak dengan memasukkan Trent Alexander-Arnold dan Brahim Diaz. Perubahan itu menggeser momentum: tempo Madrid mengalir lebih cepat, pergerakan tanpa bola menjadi lebih hidup, dan Osasuna mulai mundur semakin dalam. Kylian Mbappe sempat memasukkan bola ke gawang, tetapi dianulir karena offside. Tak lama kemudian, tusukan Fede Valverde memecah blok rendah tuan rumah; gelandang Uruguay itu berlari menembus antara garis bertahan Osasuna sebelum menyodorkan umpan matang yang disambar Vinicius Junior dari jarak dekat. Itu adalah gol kelima Vinicius dalam empat laga terakhir di semua ajang, sekaligus bukti konsistensinya sejak Arbeloa menggantikan Xabi Alonso pada Januari. Ironisnya, di Eropa sepekan sebelumnya, Vinicius juga menjadi protagonis dengan gol sensasional, dibayangi kabar dugaan pelecehan rasial yang menodai malamnya.

Dengan skor imbang, Madrid melihat celah untuk membalikkan keadaan. Mbappe, top skor La Liga, mendapat peluang emas untuk mengantar Los Blancos berbalik unggul 10 menit jelang bubaran, tetapi Javi Galan melakukan blok heroik yang menyelamatkan Osasuna. Alexander-Arnold kemudian mencoba peruntungan lewat tendangan bebas yang hanya melenceng tipis, menambah daftar kesempatan yang tak termanfaatkan. Pada fase ini, duel terasa mengarah ke hasil seri yang pahit bagi Madrid—dua poin yang hilang di tengah tekanan menuju pekan krusial Eropa. Namun, sepak bola selalu menyimpan tikungan terakhir.

Ketika jarum jam menyentuh menit ke-90, datang momen yang membelah malam: Raul Garcia menguasai bola di area berbahaya, melakukan tusukan ke dalam melewati Raul Asencio yang mencoba meluncur menutup ruang, lalu melepaskan tembakan mendatar terukur yang meluncur melewati jangkauan Courtois dan bersarang di tiang jauh. Sorak-sorai El Sadar sempat tercekik oleh bendera offside asisten wasit, tetapi VAR kembali menjadi penentu takdir—tayangan ulang menunjukkan Garcia onside. Gol disahkan, euforia pun meledak. “Rasanya luar biasa… setelah bertahun-tahun, para suporter pantas mendapatkan kemenangan seperti ini,” kata sang penyerang kepada DAZN. “Saat melihat Asencio datang, saya tahu dia akan meluncur. Saya tetap tenang, mengecohnya, dan menuntaskan.”

Bagi Osasuna, ini adalah kemenangan liga pertama atas Real Madrid dalam 15 tahun—angkat kepala yang bukan hanya bernilai sejarah, tetapi juga mengantar mereka naik ke peringkat kesembilan, mempertebal keyakinan di ruang ganti bahwa keberanian dan kedisiplinan bisa menaklukkan nama besar. Bagi Madrid, luka ini lebih dari sekadar statistik. Arbeloa tak menutupi kekurangan timnya. “Ini bukan pertandingan yang bagus dari kami… kami harus bermain jauh lebih baik,” ujarnya. “Tidak ada yang suka kalah, terutama kami, tetapi kami tidak patah semangat. Masih ada jalan panjang. Kami mengendalikan permainan di beberapa momen, tetapi kami lambat dalam sirkulasi. Rabu nanti kami punya ‘final’ lain yang sangat penting bagi kami.” Ucapan itu merangkum dilema: menjaga intensitas di liga sambil memelototi peperangan Eropa yang menuntut energi dan fokus total.

Di tempat lain, Real Betis ditahan Rayo Vallecano 1-1, membuat mereka tetap tertinggal tiga poin dari Atletico Madrid di peringkat keempat. Tim Diego Simeone akan menjamu Espanyol dengan misi menebus kekalahan 0-3 dari Rayo pada akhir pekan sebelumnya. Rangkaian hasil ini menambah remang pada peta empat besar yang masih dinamis. Namun sorotan utama tetap tertuju pada puncak: satu malam di Pamplona telah mengguncang takhta sementara, membuka kemungkinan bagi Barcelona untuk mengambil alih kemudi jika tak tergelincir di Camp Nou.

Pada akhirnya, El Sadar kembali menegaskan reputasinya sebagai salah satu kandang paling berisik dan tak bersahabat di Spanyol. Madrid datang dengan ambisi, pulang dengan pelajaran: ketika detail dieksekusi dengan sempurna, keberanian menekan, bertahan rapat, dan memanfaatkan momen—ditambah keberpihakan VAR pada kebenaran—cukup untuk menumbangkan favorit juara. Perburuan gelar pun kini terasa lebih rapat, lebih tegang, dan lebih tak terduga.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Ke-90 Raul Garcia Guncang Madrid, Osasuna Hancurkan Takhta Sementara

City Makin Dekat: Dua Gol Nico O’Reilly Tekuk Newcastle, Tekanan ke Arsenal…

Atletico Tertahan di Jan Breydel: Drama Enam Gol, VAR, dan Keunggulan yang…

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan…

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan…

Scroll to Top