Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan di Paris

 

Cairscore Paris Saint-Germain membalikkan keadaan yang tampak mustahil di Stade Louis II, bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menekuk AS Monaco 3-2 pada leg pertama babak play-off fase gugur Liga Champions. Di malam yang berawal kacau bagi tim tamu—kebobolan saat pertandingan baru berdenyut 55 detik dan kembali ditembus pada menit ke-18—Desire Doué tampil sebagai pembeda dengan dua gol dan satu kontribusi krusial dalam proses penyama kedudukan, menyulut kebangkitan yang menempatkan pasukan Luis Enrique selangkah lebih percaya diri menuju leg kedua di Paris pekan depan.

Monaco membuka laga seperti tersengat listrik. Hanya butuh kurang dari semenit bagi Folarin Balogun untuk memanfaatkan umpan silang Aleksandr Golovin dengan sundulan jarak dekat yang mengoyak jala Matvei Safonov, menjadi gol tercepat yang pernah diderita PSG di panggung Eropa. Dalam euforia dan tekanan beruntun, Monaco tak melepaskan kaki dari pedal gas. Gerak kombinasi cepat Balogun dengan Maghnes Akliouche membelah blok pertahanan PSG, dan penyerang Amerika Serikat itu menyelesaikan aksi satu-dua dengan tembakan dingin melewati Safonov untuk mengubah skor menjadi 2-0 pada menit ke-18, menempatkan sang juara Eropa bertahan di tepian jurang sejak dini.

Tekanan makin menyesakkan saat PSG mendapat hadiah penalti—kesempatan emas untuk memperkecil defisit—namun eksekusi Vitinha dibaca sempurna oleh Philipp Köhn. Itu menandai empat kegagalan dari lima penalti terakhir Les Parisiens di Liga Champions, sebuah catatan yang mencerminkan beban psikologis di momen-momen krusial. Untuk memperparah situasi, Ousmane Dembélé—yang datang dengan status pemenang Ballon d’Or tahun lalu tetapi didera cedera sepanjang musim—harus menepi sebelum setengah jam pertandingan. Namun dari titik terendah itulah momentum berbalik: masuknya Désiré Doué menjadi sumbu yang menyalakan ulang mesin PSG.

Baru dua menit menginjak rumput, Doué sudah menunjukkan keunggulan insting dan ketenangan. Mengontrol umpan Bradley Barcola di dalam kotak, ia mengatur bola ke kaki kiri dan melepaskan tembakan rendah yang menghujam ke sudut jauh, memotong jarak dan menyuntikkan keyakinan yang sebelumnya redup. PSG yang semula terlihat limbung mendadak menemukan struktur. Pergerakan antar lini lebih rapat, sirkulasi bola lebih bersih, dan pressing pasca-kehilangan bola lebih kompak untuk meredam upaya transisi Monaco. Tekanan berkelanjutan itu berbuah empat menit jelang rehat: tembakan Doué ditepis Köhn, tetapi bola muntah dikuasai Achraf Hakimi yang dengan dingin menuntaskan peluang, menyamakan skor 2-2 dan memindahkan beban ke kubu tuan rumah tepat saat turun minum.

Babak kedua baru menginjak tiga menit ketika cengkeraman Monaco benar-benar longgar. Golovin, otak kreativitas mereka, mendapat kartu merah setelah tinjauan VAR atas pelanggarannya terhadap Vitinha, memaksa tuan rumah bermain dengan 10 orang untuk sisa laga. PSG, yang sebelumnya seperti berlari melawan waktu, kini berlari bersama arus. Luis Enrique menginstruksikan pengelolaan tempo dengan cerdas: membentangkan lapangan lewat full-back, merapatkan jarak antar lini ketika kehilangan bola, dan bersabar dalam menunggu celah. Warren Zaïre-Emery, yang sepanjang malam menjadi konektor di lini tengah, menemukan Doué di ruang yang tepat pada menit ke-67. Dengan gerak setengah detik lebih cepat dari pengawal terdekatnya, Doué menuntaskan peluang untuk membalikkan keadaan sepenuhnya—3-2 bagi PSG, sekaligus menandai malam yang bertransformasi menjadi panggungnya.

Monaco berusaha menata ulang organisasi permainan, namun tanpa Golovin aliran kreatif mereka kehilangan percikan. Upaya untuk mengirim bola lebih cepat ke Balogun kerap putus di lini kedua PSG, sementara disiplin posisi Marquinhos dan rekan-rekan menahan ancaman dari sisi sayap yang semula begitu efektif di awal laga. Köhn beberapa kali mencegah skor menjadi lebih lebar, namun dengan satu pemain lebih, PSG memilih jalur manajemen energi ketimbang mengejar pesta gol—menahan irama, memperkaya sirkulasi, dan memangkas risiko transisi lawan. Safonov tak sering diuji setelah kebobolan cepat di awal, pertanda bahwa garis pertahanan PSG belajar dari 20 menit pertama yang goyah.

Hasil ini menjaga ketegangan pasangan laga tetap hidup, tetapi menempatkan PSG dalam posisi unggul secara psikologis dan taktis saat pulang ke Parc des Princes. Dalam format baru kompetisi, babak play-off menjadi gerbang menuju 16 besar, dan PSG kini memegang kendali untuk menyelesaikan pekerjaan di hadapan pendukung sendiri. Pemenang duel ini akan berhadapan dengan Barcelona atau Chelsea, membuat setiap detail—dari rotasi, pemulihan fisik, hingga kesiapan mental—menjadi kunci pada pekan penentuan. Bagi Monaco, ada dua sisi untuk direnungkan: ketangguhan awal yang impresif, serta rapuhnya struktur saat kehilangan satu pemain dan playmaker utama. Mereka boleh lega pulang ke Paris dengan selisih hanya satu gol setelah bermain lama dengan 10 orang, tetapi pekerjaan rumah mereka berat: merapikan kembali blok pertahanan, memperbanyak koneksi lintas lini di sepertiga akhir, dan mencari alternatif kreatif di ketiadaan Golovin.

Di kubu PSG, malam ini akan dikenang sebagai demonstrasi daya pulih. Datang setelah kehilangan puncak klasemen Ligue 1 usai tumbang di Rennes—dengan Lens merebut tempat teratas—mereka mampu memutar haluan dalam skenario yang nyaris berantakan. Selisih 20 poin atas Monaco di liga domestik tidak menjamin apa pun di panggung Eropa, apalagi mengingat rekam jejak tuan rumah yang mampu menahan Manchester City, Tottenham Hotspur, dan Juventus di fase liga serta mengalahkan PSG 1-0 di stadion yang sama pada November. Justru karena itu, kemenangan ini terasa dua kali lipat nilainya: bukan hanya agregat, tetapi juga pernyataan karakter. Doué, yang bersinar di final musim lalu saat PSG membantai Inter 5-0, kembali menulis bab penting—gol pembalik arus, kontribusi langsung untuk penyama, dan ketenangan yang menjadi mercusuar di tengah badai.

Ketika peluit panjang menutup drama di kerajaan, PSG meninggalkan Monaco dengan pelajaran besar, keunggulan tipis, dan keyakinan bahwa kendali kini berada di tangan mereka. Tak ada lagi ruang untuk lengah di ibu kota; namun jika malam ini menjadi patokan, Luis Enrique telah menemukan kombinasi yang sanggup menyeimbangkan gaya dan substansi. Babak pertama adalah ujian, babak kedua adalah jawaban, dan nama Désiré Doué berdiri di tengah-tengahnya, menghubungkan keduanya menjadi kisah kebangkitan yang komplet.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Ke-90 Raul Garcia Guncang Madrid, Osasuna Hancurkan Takhta Sementara

City Makin Dekat: Dua Gol Nico O’Reilly Tekuk Newcastle, Tekanan ke Arsenal…

Atletico Tertahan di Jan Breydel: Drama Enam Gol, VAR, dan Keunggulan yang…

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan…

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan…

Scroll to Top