Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

UEFA Bidik Penantang Kredibel untuk Infantino dengan Agenda Reformasi FIFA

 

Cairnews UEFA menilai upayanya untuk menemukan penantang yang kredibel bagi Presiden FIFA Gianni Infantino masih berada di jalur yang tepat menjelang pemilihan FIFA pada Maret mendatang. Wakil Presiden UEFA Laura McAllister menyatakan bahwa dorongan perubahan di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut bukan sekadar angan-angan, meskipun Infantino dinilai masih terlihat memiliki dukungan yang cukup untuk memenangi masa jabatan berikutnya. Bagi UEFA, proses ini tidak semata-mata berkaitan dengan menghadirkan lawan bagi petahana, tetapi juga dengan membangun dukungan bagi agenda perubahan tata kelola yang berkelanjutan.

McAllister menyampaikan pandangan itu kepada Reuters di World Football Summit di Madrid pada Rabu, setelah pertemuan Komite Eksekutif UEFA di Thessaloniki. Ia menolak anggapan bahwa pihak yang menentang Infantino telah kehilangan momentum. Menurutnya, perubahan di lingkungan sepak bola internasional tidak mungkin terjadi secara cepat dan sederhana. UEFA, kata McAllister, memahami sejak awal bahwa proses tersebut akan menghadapi berbagai hambatan, termasuk penolakan terhadap perubahan yang ingin didorong.

Ketika ditanya apakah pihak yang berseberangan dengan Infantino telah terlalu membesar-besarkan dampak kerusakan terhadap wibawa presiden FIFA tersebut, McAllister menjawab, “Saya rasa tidak demikian.” Ia menegaskan bahwa UEFA tidak pernah menganggap perubahan dapat diwujudkan dalam semalam. “Kami selalu tahu bahwa perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Anggapan seperti itu tentu naif. Kami juga tahu bahwa pasti akan ada resistensi terhadap perubahan,” katanya.

Menurut McAllister, langkah UEFA ditempuh secara bertahap. Proses itu mencakup sisi hukum dan konteks politik, termasuk kemungkinan hadirnya kandidat alternatif dalam pemilihan FIFA. Di saat yang sama, UEFA juga memusatkan perhatian pada program reformasi tata kelola yang ingin diwujudkan. “Kami melangkah selangkah demi selangkah, baik dari segi hukum—terkait konteks politik dengan adanya kandidat alternatif—maupun dari segi program reformasi tata kelola yang ingin kami wujudkan,” ujar McAllister.

Pemilihan mendatang menjadi sorotan karena Infantino telah menyatakan niatnya untuk kembali mencalonkan diri. Presiden FIFA berusia 56 tahun itu, yang memiliki keturunan Swiss-Italia, menghadapi tantangan terbesar terhadap masa jabatannya setelah gagal mewujudkan usul penjualan saham hingga 20 persen dalam kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Rencana tersebut memicu penentangan keras dan membuka perdebatan mengenai arah tata kelola serta pengambilan keputusan di level tertinggi FIFA.

UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC, dan CONCACAF termasuk di antara pihak yang menyerukan perubahan di jajaran tertinggi FIFA. Selain itu, sejumlah asosiasi sepak bola nasional di Eropa telah menarik dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino. Yunani menjadi pihak terbaru yang melakukan hal tersebut pada Selasa. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai pemilihan tidak hanya bertumpu pada satu konfederasi, melainkan juga terkait dengan pandangan yang muncul dari berbagai bagian sepak bola internasional.

Meski demikian, McAllister menekankan bahwa sikap UEFA tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk menjadikan tokoh Eropa sebagai pemimpin perlawanan. Kandidat yang akan didukung dalam pemilihan FIFA, menurutnya, tidak harus berasal dari Eropa. Pertimbangan utamanya adalah kemampuan kandidat itu untuk mengalahkan Infantino, menyatukan konfederasi-konfederasi sepak bola, dan membawa program reformasi yang jelas. UEFA ingin menghimpun dukungan bagi sosok yang dapat menjawab kebutuhan perubahan secara lebih luas.

McAllister mengatakan anggota UEFA tetap “bersatu dan sangat terkoordinasi” dalam tekad untuk mengubah tata kelola FIFA. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dipahami hanya sebagai pertentangan terhadap satu orang. “Ini selalu tentang hal yang lebih besar daripada sekadar satu orang,” katanya. Penegasan itu menunjukkan bahwa agenda yang didorong UEFA diarahkan pada perubahan sistem dan tata kelola, bukan sekadar pada pergantian posisi presiden FIFA.

Dalam penjelasannya, McAllister menyatakan UEFA bekerja diam-diam di berbagai lini. Ia tidak menempatkan identitas maupun kewarganegaraan kandidat sebagai inti dari upaya tersebut. Yang diprioritaskan adalah pencarian calon yang mampu membangun dukungan lintas konfederasi dan membawa arah perubahan yang dapat diterima secara luas. Bagi UEFA, kebutuhan terhadap kandidat alternatif berkaitan erat dengan kemampuan untuk menyatukan pandangan berbagai pihak tentang perlunya pembaruan dalam kepemimpinan FIFA.

“Ada banyak aspek dalam setiap upaya untuk melakukan perubahan. Ada taktik yang harus dijalankan, namun saya sangat yakin bahwa langkah kami sudah tepat,” kata McAllister. Ia menambahkan bahwa UEFA akan berusaha mencari kandidat yang mampu menyatukan seluruh konfederasi. Menurutnya, kebutuhan akan perubahan bukan hanya pandangan UEFA. “Kami akan berupaya mencari kandidat yang mampu menyatukan seluruh konfederasi, karena bukan hanya UEFA; semua konfederasi memiliki pandangan kuat mengenai perlunya perubahan. Dan kandidat tersebut nantinya akan mengusung manifesto reformasi serta modernisasi.”

Pernyataan itu menempatkan manifesto reformasi dan modernisasi sebagai unsur utama dalam pencarian kandidat. UEFA tidak sekadar mencari figur yang tampil sebagai penentang petahana, tetapi seseorang yang memiliki program yang dapat menjadi dasar dukungan bersama. Dalam kerangka tersebut, pemilihan FIFA dipandang sebagai kesempatan untuk mengajukan arah tata kelola yang berbeda, dengan penekanan pada reformasi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

McAllister juga menilai bahwa pihak-pihak yang tidak sejalan dengan Infantino memiliki kewajiban untuk memastikan calon yang diajukan benar-benar memiliki peluang untuk menang. Kehadiran kandidat, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol perlawanan. Karena Infantino sudah menyatakan akan maju lagi, pencarian calon alternatif perlu dilakukan dengan pertimbangan yang serius mengenai kemampuan untuk menghadapi petahana dalam pemilihan.

“Jika Anda berada dalam situasi di mana Anda tahu petahana akan kembali mencalonkan diri—dan Gianni Infantino telah menegaskan bahwa ia akan menjadi kandidat dalam pemilihan tersebut kecuali ada perubahan sebelum bulan Maret—maka pihak-pihak yang menentangnya berkewajiban untuk mendapatkan kandidat yang tepat,” ujar McAllister. Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa pencalonan harus didasarkan pada peluang nyata untuk meraih kemenangan. “Anda tidak akan maju dalam pemilihan jika tidak bisa memenangkannya.”

Dengan posisi tersebut, UEFA menempatkan pemilihan Maret mendatang sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk mengubah tata kelola FIFA. Organisasi itu menyatakan tetap bergerak untuk menghimpun dukungan bagi kandidat dengan program reformasi dan modernisasi, tanpa membatasi asal kandidat pada Eropa. Sementara Infantino telah menyatakan niatnya untuk kembali maju, McAllister menegaskan bahwa jalan menuju perubahan akan ditempuh secara bertahap, terkoordinasi, dan dengan fokus pada kandidat yang mampu menyatukan konfederasi-konfederasi sepak bola.

HOT NEWS

TRENDING

Brentford Hantam Chelsea 3-0, Alonso Dihadapkan pada Banyak Pekerjaan Rumah

Manchester City Pesta Lima Gol di EFL Cup, Floyd Samba Bersinar dalam…

Munich dan Barcelona Ditunjuk untuk Final Liga Champions 2028 dan 2029

Petugas VAR Derbi Manchester Tak Ditugaskan pada Putaran Liga Inggris Berikutnya

Manchester City Menang Dramatis atas United Meski Bermain dengan 10 Orang, Haaland…

Scroll to Top