Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan Rasisme, Mourinho Terusir Jelang Kepulangan ke Bernabeu

 

Cairscore Real Madrid membawa pulang kemenangan 1-0 yang sarat tensi dari markas Benfica pada leg pertama babak play-off Liga Champions, berkat gol indah Vinicius Junior yang melengkung sempurna ke sudut atas gawang. Laga di Estadio da Luz, Lisbon, Selasa dini hari, berjalan intens sejak menit awal, namun akhirnya dikenang bukan hanya karena kualitas individu yang gemilang, melainkan juga karena jeda panjang lebih dari 10 menit setelah wasit Francois Letexier menerapkan protokol anti-rasisme menyusul dugaan pelecehan yang diterima sang bintang Brasil.

Madrid datang dengan misi penebusan setelah kalah dramatis 4-2 dari Benfica di fase liga beberapa pekan lalu, kekalahan yang menyeret juara 15 kali itu ke babak play-off. Di bawah komando Alvaro Arbeloa, Los Blancos tampak jauh lebih terstruktur dan disiplin. Kembalinya Kylian Mbappe yang sebelumnya menepi karena masalah lutut menambah daya gedor, sementara Vinicius menunjukkan keyakinan diri yang menguat sejak pergantian pelatih pada Januari. Atmosfer Estadio da Luz membara, namun Madrid memulai dengan tenang: Vinicius lebih dulu mengirim sinyal bahaya lewat tembakan melengkung yang menyisir tiang jauh, sedangkan tuan rumah membalas melalui percobaan Fredrik Aursnes yang memaksa Thibaut Courtois terbang menepis bola yang sempat berbelok arah.

Seiring laga berjalan, kualitas Madrid kian terpampang. Anatoliy Trubin, kiper Benfica yang pernah menjadi pahlawan lewat gol dramatis di pertemuan Januari, berulang kali mematahkan peluang Mbappe dan Arda Guler sebelum turun minum. Namun momen penentu datang pada menit ke-50. Mendapat ruang di sisi kiri kotak penalti, Vinicius seperti menolak opsi lain selain mengeksekusi. Ia mengangkat bola dengan ayunan kaki yang sangat bersih, melengkungkan si kulit bundar ke pojok atas tanpa memberi Trubin kesempatan bereaksi. Gol itu menjadi potret kelas dunia: presisi, timing, dan keberanian dalam satu sapuan.

Selebrasi Vinicius memantik bara. Ia menerima kartu kuning setelah menari di depan pendukung tuan rumah, yang lantas berujung pada perselisihan dengan Gianluca Prestianni. Dalam kegaduhan singkat itu, Vinicius terlihat menunjuk Prestianni dan mengadu kepada wasit, diduga karena mendapat sebutan bernada rasis. Ia tampak mengklaim telah dipanggil “mono” (monyet dalam bahasa Spanyol). Letexier segera menghentikan pertandingan dan mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA. Sesuai tahapan yang lazim, laga dihentikan sementara, diumumkan peringatan melalui pengeras suara, dan permainan baru dilanjutkan setelah situasi dinilai aman. Vinicius duduk di bangku Madrid selama jeda tersebut, sementara stadion bergemuruh oleh sorakan dan cemooh yang makin menekan tensi mental para pemain di lapangan.

Ketika laga kembali berjalan, Trubin menjadi dinding pertama yang harus dijebol Madrid untuk mempertebal keunggulan. Kiper asal Ukraina itu tiga kali menggagalkan Vinicius dalam rentang menit-menit singkat, menahan gempuran yang bisa saja mengubah skor menjadi lebih telak. Benfica pada sisi lain berusaha mengalirkan bola lebih cepat ke sepertiga akhir, mencoba memanfaatkan momentum psikologis dari jeda panjang, namun ketenangan Courtois, organisasi pertahanan yang lebih rapat, serta disiplin gelandang Madrid meredam upaya tuan rumah.

Memasuki menit-menit akhir, ketegangan meledak di area teknis. Jose Mourinho diusir wasit pada menit ke-85 setelah memprotes keras keputusan yang berujung kartu kuning kedua untuk Vinicius. Kartu merah bagi pelatih Benfica itu berarti ia akan absen di leg kedua di Santiago Bernabeu, sebuah pukulan simbolis mengingat ia pernah menakhodai Madrid pada 2010–2013. Tambahan waktu sampai 12 menit diberikan karena penghentian panjang sebelumnya, tetapi Benfica gagal menemukan celah untuk menyamakan kedudukan. Madrid memeluk kemenangan tipis namun bernilai besar, bukan hanya sebagai modal agregat, melainkan juga sebagai pernyataan bahwa mereka telah bertransformasi dari rapuh menjadi lebih kukuh dalam waktu singkat di bawah Arbeloa.

Secara psikologis, hasil ini adalah paket lengkap: kepercayaan diri untuk Madrid, beban ekstra untuk Benfica, dan nuansa panas yang mungkin terbawa ke leg kedua. Dengan aturan gol tandang yang tak lagi berlaku, skor 1-0 tetap krusial sebagai pijakan, terutama karena Madrid membuktikan diri mampu menahan gempuran di salah satu kandang paling bising di Eropa. Bagi Vinicius, malam di Lisbon menjadi dualitas: ekstase karena gol berkelas dunia, juga kegetiran akibat dugaan hinaan rasial yang menodai panggung terbesar benua. UEFA melalui perangkat resmi pertandingan diperkirakan akan menelaah laporan wasit dan delegasi laga, dan setiap temuan bisa memicu tindak lanjut disipliner.

Di luar kontroversi, ada benang merah performa yang patut disorot. Madrid menampilkan blok pertahanan yang lebih kompak dibanding pertemuan sebelumnya, mengatur ritme untuk menghindari duel transisi liar yang dulu merugikan mereka. Courtois memberi kehadiran yang menenangkan, sementara lini tengah mempersempit ruang kreatif Benfica. Di sisi lain, Benfica menunjukkan daya juang dan kecerdikan taktik yang identik dengan tim asuhan Mourinho, tetapi kurang sentuhan akhir untuk menguji Courtois lebih sering. Trubin, meski kebobolan oleh tendangan yang hampir mustahil dihentikan, menjaga harapan timnya tetap bernyala dengan serangkaian penyelamatan kunci.

Ketika peluit panjang berbunyi, Madrid meninggalkan Da Luz dengan rasa lega dan lapar akan penyelesaian di Bernabeu pekan depan. Mereka memegang keunggulan tipis yang menuntut keseimbangan antara kehati-hatian dan agresivitas, sementara Benfica menghadapi tugas menanjak tanpa pelatih kepala mereka di pinggir lapangan. Di atas segalanya, sorotan kini bukan hanya pada strategi dan kemampuan mengeksekusi, melainkan juga pada komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kompetisi elite Eropa berjalan tanpa noda rasisme. Malam di Lisbon mengingatkan bahwa sepak bola adalah panggung keindahan dan emosi, namun martabat manusia harus selalu menjadi batas yang tidak boleh dilanggar.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Ke-90 Raul Garcia Guncang Madrid, Osasuna Hancurkan Takhta Sementara

City Makin Dekat: Dua Gol Nico O’Reilly Tekuk Newcastle, Tekanan ke Arsenal…

Atletico Tertahan di Jan Breydel: Drama Enam Gol, VAR, dan Keunggulan yang…

PSG Balikkan Skor 0-2 Jadi 3-2 di Monaco, Modal Emas Jelang Penentuan…

Vinicius Memecah Sunyi di Da Luz: Kemenangan Tipis Real Madrid Dinodai Dugaan…

Scroll to Top