Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Gol Menit Akhir, dan Bayangan Spionase: Hull City Akhirnya Kembali ke Liga Primer

 

Cairscore – Di bawah langit Wembley yang membara oleh terik musim semi, Sergej Jakirovic berlari ke tengah lapangan dengan mata yang berkaca-kaca. Sang manajer asal Bosnia itu tidak sendiri. Para pemainnya, yang selama dua minggu terakhir hidup di bawah bayang-bayang kontroversi dan ketidakpastian yang nyaris tak tertanggungkan, ikut menitikkan air mata kebahagiaan begitu peluit panjang wasit menggema di stadion bersejarah itu. Hull City, kesebelasan yang musim lalu nyaris terjun ke divisi ketiga hanya karena selisih gol, kini resmi kembali ke pentas tertinggi sepak bola Inggris untuk pertama kalinya sejak 2017.

Kemenangan 1-0 atas Middlesbrough di final play-off Championship pada hari Sabtu itu bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang yang berliku, penuh guncangan, dan diwarnai oleh salah satu kontroversi terbesar yang pernah menghantam kompetisi tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Gol tunggal yang memastikan tiket senilai £205 juta — atau setara dengan sekitar $275 juta — itu lahir dari kaki Oli McBurnie, striker Skotlandia yang baru menjalani musim pertamanya bersama The Tigers setelah didatangkan dari Las Palmas. Ia mencetak gol hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, memanfaatkan kesalahan kiper Middlesbrough, Sol Brynn, dengan penyelesaian kekar dari jarak dekat yang tak bisa ditepis.

Bagi McBurnie, momen itu terasa seperti takdir yang memang sudah disiapkan untuknya. “Saya tidak bisa berkata-kata untuk pertama kalinya,” ujarnya seusai laga, suaranya masih terasa berat oleh emosi. “Pertandingan itu merangkum kami sebagai tim. Kami tahu kami tidak akan menguasai bola sepenuhnya. Panas di luar sana sangat berat. Middlesbrough adalah tim papan atas, kami tahu kami akan menghadapi tantangan berat, tetapi kami merasa kami hanya punya satu kesempatan — dan saya merasa seolah-olah sudah ditakdirkan untuk saya yang mendapatkannya.” Kata-kata itu bukan sekadar kalimat klise seorang pencetak gol. Bagi Hull, satu kesempatan memang selalu menjadi tema sentral musim yang luar biasa ini.

Dua belas bulan lalu, klub ini berada di ujung jurang. Mereka bertahan dari ancaman degradasi ke League One pada hari terakhir musim lalu hanya berkat selisih gol — margin paling tipis yang bisa dibayangkan dalam dunia sepak bola. Seolah belum cukup, klub kemudian dihadapkan pada embargo transfer yang membatasi ruang gerak mereka di bursa pemain. Dalam situasi seperti itu, banyak yang mungkin akan memilih untuk sekadar bertahan dan menekan tombol ulang. Tetapi Jakirovic dan skuadnya memilih untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih nekat: mereka bangkit.

Mereka mengakhiri musim reguler di peringkat keenam, lolos ke babak play-off pada hari terakhir musim, lalu menyingkirkan Millwall yang diunggulkan di peringkat ketiga pada babak semifinal. Sebuah lintasan yang, kalau diceritakan kepada seseorang di awal musim, pasti akan disambut tawa. Namun inilah Hull City musim ini — sebuah tim yang tampaknya tidak percaya pada narasi yang sudah ditulis orang lain untuk mereka.

Namun perjalanan menuju Wembley tidak berhenti di situ. Selama hampir dua minggu sebelum final, lawan Hull diselimuti misteri yang tidak nyaman. Southampton, yang telah mengalahkan Middlesbrough di semifinal pertama, mendadak terseret skandal yang kemudian dikenal publik sebagai ‘spygate’. Klub itu dituduh mengirim seorang anggota staf untuk memata-matai lawan semifinal mereka dengan cara merekam sesi latihan secara diam-diam sebelum leg pertama berlangsung. Tuduhan itu menggemparkan dunia sepak bola Inggris dan berujung pada sanksi yang membuat Southampton terdepak dari final play-off pada hari Selasa — hanya beberapa hari sebelum laga puncak digelar.

Hull, yang semula mempersiapkan diri untuk menghadapi Southampton di Wembley, tiba-tiba harus memutar ulang seluruh rencana taktis mereka. Jakirovic hanya punya beberapa hari untuk menyesuaikan timnya menghadapi Middlesbrough — bukan The Saints yang sudah mereka pelajari selama berminggu-minggu. Manajer itu sendiri tidak menyembunyikan kekecewaannya atas situasi yang menghimpit, menyebut Hull sebagai “korban sampingan” dari skandal Southampton. Bahkan pemilik klub, Acun Ilicali, mengancam akan menempuh jalur hukum apabila timnya kemudian kalah dari Middlesbrough akibat kekacauan yang bukan kesalahan mereka. Ancaman tuntutan hukum dari sebuah klub liga kedua terhadap badan pengatur kompetisi adalah skenario yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun di Football League — sebuah bayang-bayang sengketa panjang yang berpotensi mengotori musim yang sudah penuh drama.

Untungnya, sepak bola terkadang memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang paling puitis. McBurnie, Brynn, dan sebuah umpan silang menit-menit akhir menjadi penyelamat semua pihak. Gol itu bukan hanya memenangkan pertandingan — ia juga mengubur semua potensi pertempuran hukum sebelum benar-benar dimulai. Ilicali tidak perlu lagi memikirkan pengacara. Sebaliknya, ia berencana menghadiahi para pemainnya liburan ke Las Vegas sebagai perayaan atas pencapaian yang, dengan segala yang telah dilalui, rasanya lebih dari sekadar layak.

“Banyak pemain menangis bahagia saat peluit akhir dibunyikan. Ini luar biasa,” kata Jakirovic dengan suara yang masih gemetar saat diwawancarai seusai laga. “Perjalanan yang luar biasa, begitu banyak masalah, jadi meraih gelar Liga Primer sungguh luar biasa.” Ada getaran ketulusan yang sulit dipalsukan dalam kata-katanya — dari seorang pria yang tahu betul bahwa apa yang dicapai tim ini bukan sekadar promosi biasa, melainkan sebuah kisah tentang ketahanan yang melampaui logika sepak bola semata.

Di sisi lain, duka Middlesbrough terasa sama nyatanya. Bagi Kim Hellberg dan pasukannya, Wembley sekali lagi menjadi tempat yang kejam. Klub tersebut hingga kini masih belum pernah memenangkan satu pertandingan pun di stadion ikonik itu sepanjang sejarah mereka, dan final ini menambah catatan pahit tersebut. Lebih dari itu, Middlesbrough sebenarnya memiliki tiga kesempatan berbeda untuk merebut tiket promosi musim ini: mereka sempat berada di posisi dua besar selama sebagian besar musim reguler, namun gagal mengamankan promosi otomatis. Mereka kemudian finis di posisi kelima, kalah dari Southampton 2-1 secara agregat di semifinal — sebelum keajaiban administrasi membawa mereka kembali ke Wembley setelah Southampton didiskualifikasi — hanya untuk kembali pulang dengan tangan kosong.

“Ini adalah dua minggu terberat yang pernah saya alami. Bolak-balik, bolak-balik. Situasi yang sangat aneh,” kata Hellberg dengan nada yang lelah namun terkendali. “Ini seperti roller coaster, banyak emosi, bagi semua orang di klub. Hari ini tentu saja mengecewakan. Kami berhasil menghentikan mereka menciptakan hampir semua peluang. Rasanya seperti akan memasuki babak perpanjangan waktu, tetapi mereka mencetak gol dari umpan silang. Itulah sepak bola.” Dalam kalimat terakhir itu tersimpan semua pasrah dan kepedihan yang tidak bisa dijelaskan oleh statistik mana pun.

Sementara Middlesbrough menatap langit Wembley dengan tatapan hampa, di sudut lain stadion itu para pemain Hull bergumul dalam pelukan satu sama lain, bercampur antara tawa dan tangis. Sebuah tim yang musim lalu hampir tidak eksis di Championship kini akan bermain di hadapan kamera-kamera Liga Primer musim depan. Sebuah klub yang pemiliknya nyaris mengajukan gugatan hukum minggu ini kini justru merencanakan pesta di Las Vegas. Dan seorang striker yang baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Inggris kini namanya akan diukir dalam sejarah sebagai pencetak gol £205 juta yang membawa The Tigers kembali ke puncak.

Di Wembley, pada hari Sabtu yang panas dan penuh emosi itu, Hull City tidak hanya memenangkan sebuah final. Mereka memenangkan hak untuk bercerita — tentang betapa jauhnya jalan yang telah mereka tempuh, dan betapa indahnya tiba di tujuan.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Akhir, dan Bayangan Spionase: Hull City Akhirnya Kembali ke Liga…

Aston Villa Bangkit dengan Gemilang, Hancurkan Nottingham Forest dan Melangkah Gagah Menuju…

Dembélé Membungkam Allianz Arena, PSG Melaju ke Final Liga Champions untuk Pertahankan…

Emery: Masa Depan Aston Villa Tetap Cerah Meski Impian Liga Europa Kian…

Doku Selamatkan City dari Kekalahan, tapi Mimpi Gelar Makin Jauh saat Arsenal…

Scroll to Top