Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    #Cairbos

Bukan Soal Mahkota Sang Raja, Ini Soal Sejarah Baru Aston Villa

 

Unai Emery tidak mau disebut raja. Gelar itu, bagi pelatih asal Spanyol tersebut, terasa terlalu besar dan terlalu condong ke masa lalu — sesuatu yang justru ingin ia tinggalkan ketika melangkah ke lapangan di Istanbul pada Rabu malam. Di hadapan para wartawan dalam konferensi pers pra-pertandingan, Emery menegaskan dengan tenang bahwa satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah Aston Villa, lawan yang akan dihadapinya besok, dan satu pertandingan yang bisa mengubah segalanya.

Final Liga Europa musim 2025/2026 mempertemukan Villa dengan Freiburg, tim Jerman yang membangun reputasinya lewat kerja keras dan kerendahan hati, bukan kilau nama besar. Namun sebelum jalannya laga itu sendiri menyita perhatian, sosok Emery-lah yang terlebih dahulu menjadi pusat perbincangan. Wajar saja. Ia telah memenangkan Liga Europa empat kali sepanjang karier kepelatihannya — tiga kali bersama Sevilla dan sekali bersama Villarreal — menjadikannya figur paling berpengalaman dalam sejarah kompetisi bergengsi itu. Kini ia berdiri di ambang final untuk kelima kalinya, selangkah dari menorehkan namanya semakin dalam ke dalam sejarah turnamen tersebut.

Namun Emery menolak bingkai itu. “Saya bukan raja dalam kompetisi ini,” katanya, lugas dan tanpa pretensi. “Saya perlu menang besok dengan para pemain yang kami miliki sekarang, dengan Aston Villa sekarang, dengan lawan yang kami hadapi besok. Jadi ini adalah cara baru, momen baru, dan semoga era baru.” Kalimat itu bukan sekadar retorika rendah hati. Bagi Emery, setiap final adalah kisah baru, bukan kelanjutan dari bab-bab sebelumnya yang sudah ia tulis bersama klub-klub lain.

Perjalanan Emery bersama Aston Villa sendiri sudah merupakan sebuah kisah yang luar biasa untuk diceritakan. Ia tiba di Birmingham pada akhir 2022, menggantikan Steven Gerrard yang dicopot di tengah musim, mewarisi tim yang limbung dan terancam melorot dari Liga Premier. Dalam waktu tidak terlalu lama, ia membalik keadaan secara dramatis. Villa yang tadinya berkubang di zona berbahaya kini menjadi kekuatan yang diperhitungkan di level tertinggi sepak bola Eropa. Dalam dua dari tiga musim terakhir, Villa berhasil lolos ke Liga Champions — sebuah pencapaian yang nyaris mustahil dibayangkan saat Emery pertama kali menjejakkan kakinya di Villa Park.

Jejak transformasi itu tidak hanya berhenti di angka dan posisi klasemen. Emery membawa tim juara Eropa 1982 ini menembus semifinal Liga Conference pada 2024 dan perempat final Liga Champions musim lalu. Kini, di Istanbul, mereka selangkah dari trofi besar pertama sejak mengangkat Piala Liga pada 1996 — tiga dekade yang panjang dan penuh rasa tunggu. “Ini adalah sebuah proses,” kata Emery saat ditanya tentang perjalanan panjang yang telah ditempuh. “Sebuah proses bagaimana kita bisa mencapai tujuan, membangun tim dan struktur kita. Sekarang ini adalah pengalaman baru yang akan kita alami besok. Sangat penting bagaimana kita mengelola emosi kita, dan kita telah melakukannya dalam banyak pertandingan.”

Di sisi seberang, Freiburg hadir dengan cerita yang tak kalah menariknya. Tim asal Baden-Württemberg itu belum pernah sekalipun memenangkan trofi dalam sejarah panjang mereka, dan juga belum pernah merasakan panggung Liga Champions. Final di Istanbul ini, dengan demikian, mewakili dua impian sekaligus yang belum pernah terwujud. Pelatih mereka, Julian Schuster, berusia 41 tahun dan tidak memiliki nama sebesar Emery, namun ia memimpin timnya hingga ke panggung tertinggi Eropa untuk pertama kalinya.

Schuster tidak membutuhkan waktu lama untuk mengakui posisi Freiburg sebagai underdog. Ia menyebut Villa sebagai lawan yang luar biasa dan memuji cara kerja tim asuhan Emery dengan penuh kekaguman. “Sungguh luar biasa bagaimana mereka bekerja sama dan terlihat harmonis. Mereka memiliki rencana yang jelas di setiap fase pertandingan dan memiliki banyak pemain, perpaduan yang baik antara pengalaman dan pemain muda berbakat,” katanya. “Ada banyak hal yang dapat ditiru dan dipelajari. Ini akan menjadi tantangan besar dan hebat besok.”

Yang menarik, kekaguman Schuster terhadap Emery tidak berhenti pada kata-kata. Di sela-sela sesi latihan masing-masing tim di Stadion Besiktas pada Selasa, Schuster menyempatkan diri untuk menemui Emery secara langsung — sebuah gestur yang mencerminkan penghormatan mendalam seorang pelatih muda kepada seniornya yang jauh lebih berpengalaman. “Jika Anda bisa mengamatinya, Anda bisa belajar banyak dari apa yang dia harapkan dan energi yang dia miliki di lapangan setiap saat,” ujar Schuster. “Semua pelatih dengan pengalaman besar ini, bagi setiap pelatih muda penting untuk mendengarkan mereka. Tentu saja setiap saat saya memiliki kesempatan untuk bertanya kepada pelatih seperti itu, saya akan melakukannya.”

Namun kekaguman itu tidak membuat Schuster lupa pada tugasnya. Ia tetap berbicara dengan keyakinan bahwa Freiburg punya peluang, sekecil apa pun itu tampak di mata orang luar. “Saya harus berbicara dengan keyakinan dan kepercayaan diri. Fokusnya adalah pada kekuatan kita sendiri, tetapi kita harus menerima kualitas lawan,” tegasnya. Itulah dilema klasik seorang pelatih underdog di final Eropa: cukup realistis untuk menghormati lawan, namun cukup berani untuk percaya bahwa kejutan masih mungkin terjadi.

Sementara itu, Emery menutup konferensi persnya dengan sebuah kalimat yang mungkin paling jujur menggambarkan cara pandangnya terhadap momen ini. Ia tidak ingin terlalu banyak bercerita tentang apa yang sudah ia raih. Yang ia inginkan adalah bukti baru, bukan pengulangan masa lalu. “Saya tidak ingin banyak berbicara tentang hal-hal yang telah kami lakukan sebelumnya,” katanya. “Sekarang, tahun ini, dan pertandingan yang kami mainkan sebelumnya di Conference League atau di Liga Champions, dan mereka menunjukkan kemampuan untuk bermain di level tinggi.”

Rabu malam di Istanbul, ketika peluit pertama berbunyi, semua narasi tentang raja, proses, dan keajaiban underdog itu akan bertemu dalam sembilan puluh menit — atau lebih — yang menentukan. Bagi Aston Villa, ini bukan soal menambah koleksi trofi Emery. Ini soal sejarah baru yang ingin mereka tulis sendiri.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Menit Akhir, dan Bayangan Spionase: Hull City Akhirnya Kembali ke Liga…

Aston Villa Bangkit dengan Gemilang, Hancurkan Nottingham Forest dan Melangkah Gagah Menuju…

Dembélé Membungkam Allianz Arena, PSG Melaju ke Final Liga Champions untuk Pertahankan…

Emery: Masa Depan Aston Villa Tetap Cerah Meski Impian Liga Europa Kian…

Doku Selamatkan City dari Kekalahan, tapi Mimpi Gelar Makin Jauh saat Arsenal…

Scroll to Top