#CAIRSCORE Cairbos
Tujuh Laga Ujung Jalan: Kisah Singkat dan Pahit Igor Tudor di Tottenham
Cairscore – Tidak ada yang menyangka perjalanan Igor Tudor bersama Tottenham Hotspur akan berakhir secepat dan sepedih ini. Hanya dalam tujuh pertandingan — tujuh laga yang penuh tekanan, kekalahan demi kekalahan, dan akhirnya sebuah kabar duka yang tak terduga — pelatih asal Kroasia berusia 47 tahun itu resmi meninggalkan klub London Utara tersebut atas kesepakatan bersama pada hari Minggu, 29 Maret 2026. Sebuah akhir yang menyakitkan, tidak hanya dari sudut pandang profesional, tetapi juga di tengah kesedihan pribadi yang menghantam Tudor tepat setelah peluit akhir berbunyi di akhir pekan lalu.
Kekalahan 3-0 dari Nottingham Forest — sesama tim yang tengah berjuang menghindari degradasi — menjadi pertandingan terakhir Tudor di tepi lapangan Tottenham Hotspur Stadium. Ironisnya, sesaat setelah laga itu berakhir, Tudor menerima kabar meninggalnya sang ayah. Hal itu menjadi alasan ia tidak hadir dalam sesi konferensi pers pascapertandingan, sebuah absensi yang kemudian disusul oleh pengumuman resmi perpisahan dari klub. Dalam pernyataan singkatnya, Tottenham tidak hanya mengkonfirmasi kepergian Tudor, tetapi juga menyampaikan belasungkawa secara terbuka. “Kami dapat mengkonfirmasi bahwa telah disepakati bersama agar pelatih kepala Igor Tudor meninggalkan klub dengan segera,” tulis klub dalam keterangannya. “Kami juga turut berduka cita atas kehilangan yang baru-baru ini dialami Igor dan menyampaikan dukungan kami kepadanya dan keluarganya di masa sulit ini.” Soal pengganti, klub hanya menyatakan bahwa informasi terbaru akan diberikan pada waktunya.
Tudor direkrut pada bulan Februari, menggantikan Thomas Frank yang lebih dulu dipecat dalam kondisi klub yang sudah tidak stabil. Mantan pelatih Juventus itu datang dengan harapan bisa membalikkan keadaan, namun kenyataan di lapangan bicara lain. Dari tujuh pertandingan yang ia pimpin, Tudor hanya mampu meraih dua hasil imbang dan menelan lima kekalahan. Rentetan hasil buruk itu membuat Tottenham gagal lolos ke Liga Champions dan, yang jauh lebih mengkhawatirkan, membuat mereka kini hanya terpaut satu poin di atas zona degradasi Liga Premier. Dalam konteks sepak bola Inggris, situasi ini nyaris tak terbayangkan — sebuah klub sebesar Spurs, dengan stadion berkapasitas lebih dari 60.000 tempat duduk dan masuk dalam daftar sembilan klub terkaya di dunia versi Deloitte Money League, tengah berhadapan dengan ancaman terdegradasi ke Championship untuk pertama kalinya sejak tahun 1977.
Krisis ini sejatinya tidak lahir dalam semalam. Akarnya sudah tertanam jauh sebelum Tudor tiba. Musim ini, Tottenham didera badai cedera yang melumpuhkan kedalaman skuad mereka. Mereka tersingkir dari semua kompetisi piala dan, yang paling mencolok, tidak pernah meraih kemenangan di Liga Premier sejak akhir Desember. Keterpurukan itu pula yang pada akhirnya menjadi alasan direksinya memecat Thomas Frank — pelatih yang sebelumnya tiba dengan rekam jejak mengesankan — setelah hanya mencatatkan dua kemenangan dari 17 pertandingan liga. Padahal di awal musim, Frank sempat memberi harapan: Spurs hanya kalah sekali dalam tujuh pertandingan liga pertama mereka. Namun momentum itu runtuh, dan segalanya bergerak mundur dengan cepat.
Bila seseorang ingin menelusuri titik awal dari kemunduran ini, maka nama Ange Postecoglou adalah tempat yang tepat untuk memulai. Pelatih asal Australia itu berhasil membawa Tottenham menjuarai Liga Europa musim lalu — trofi pertama klub dalam 17 tahun, sebuah pencapaian yang disambut dengan euforia luar biasa oleh para pendukung. Namun di liga domestik, Postecoglou gagal. Spurs finis di posisi ke-17 di klasemen Liga Premier — hanya dua tangga di atas zona merah — dan ia pun dipecat. Pergantian demi pergantian pelatih ternyata tidak memutus siklus buruk yang menghantui klub, melainkan justru memperparahnya.
Kini, nama-nama seperti Mauricio Pochettino dan era keemasan Spurs di Liga Champions terasa seperti cerita dari zaman yang sangat berbeda. Di bawah manajer asal Argentina itu, Tottenham sempat menjadi langganan turnamen Eropa bergengsi dan bahkan menembus final Liga Champions pada tahun 2019 — pencapaian tertinggi dalam sejarah modern mereka. Tetapi dari puncak itu, kejatuhan mereka begitu curam dan begitu cepat sehingga kini mereka justru beradu dengan tim-tim yang secara historis jauh di bawah mereka.
Pertarungan menghindari degradasi musim ini menjadi salah satu yang paling dramatis dan paling tidak terduga dalam sejarah Liga Premier belakangan ini. Nasib Burnley dan Wolverhampton Wanderers hampir dipastikan sudah terkunci di zona bawah, namun perebutan sisa satu atau dua tempat di atas zona merah masih sangat terbuka. Tottenham kini masuk dalam kelompok tim yang berjuang bersama West Ham — yang saat ini berada di dalam zona degradasi — Nottingham Forest, dan Leeds United. Dengan hanya tujuh pertandingan tersisa setelah jeda internasional dua pekan ke depan, setiap poin menjadi sangat berharga. Laga tandang pertama pasca-jeda akan membawa Spurs ke markas Sunderland, dan mereka harus melakukannya tanpa seorang pelatih kepala yang sudah pasti di posisinya.
Terdegradasi dari Liga Premier bukan sekadar kekalahan sportif bagi sebuah klub sekelas Tottenham. Ini adalah bencana finansial, reputasional, dan struktural yang dampaknya bisa terasa bertahun-tahun. Kehilangan pendapatan dari hak siar, melemahnya daya tarik bagi pemain-pemain berkualitas, hingga tekanan besar pada nilai komersial stadium megah mereka — semua itu menjadi taruhan nyata. Itulah mengapa terdegradasi ke Championship akan menjadi salah satu peristiwa paling mengguncang dalam sejarah sepak bola Inggris modern.
Sementara manajemen Tottenham bergerak cepat mencari pelatih kepala baru, pertanyaan yang menggantung bukan hanya siapa yang akan ditunjuk, tetapi apakah siapa pun yang datang masih punya waktu cukup untuk membalikkan keadaan. Tujuh pertandingan. Tujuh kesempatan terakhir. Dan satu pertanyaan besar: apakah Spurs masih bisa selamat?
-
16 Oct 2026Permintaan Maaf Infantino Gagal Redakan Kritik, Inggris dan Jerman Desak Perubahan Besar di FIFA
-
16 Oct 2026Iraola Ingatkan Barcola Soal Tekanan di Liverpool Usai Hattrick Gemilang
-
15 Oct 2026Real Betis Tunjukkan Mental Juara, Comeback Dramatis Taklukkan Porto di Liga Champions
-
15 Oct 2026Stuttgart Tampil Perkasa di Markas Slovan Bratislava, Awal Sempurna di Liga Champions Terus Berlanjut
-
15 Oct 2026Aston Villa Bantai Fenerbahce 6-0, Nicolas Jackson Bersinar dalam Kemenangan Bersejarah di Liga Champions
-
12 Oct 2026Messi Menggila dengan Dua Gol Usai Pamit dari Argentina
-
12 Oct 2026Manchester City Bungkam Liverpool 3-0 di Tengah Bayang-Bayang Skandal Finansial
-
11 Oct 2026Diomande Jadi Penentu, Real Madrid Menang atas Villarreal tetapi Vinicius Terancam Absen di El Clasico
-
11 Oct 2026PSG Bangkit Lewat Akliouche, Monaco Tersandung tetapi Tetap Memimpin Ligue 1
-
09 Oct 2026Montagliani Dikabarkan Bidik Periode Ketiga di CONCACAF, Kans Menantang Infantino Meredup
HOT NEWS
TRENDING
#CAIRSCORE Cairbos Manchester City Bungkam Liverpool 3-0 di Tengah Bayang-Bayang Skandal Finansial Cairsnews – Manchester City menunjukkan ketangguhannya…
#CAIRSCORE Cairbos Italia Bangkit di Bursa, Hujan Gol Mengantar Kemenangan 4-1 atas Turki Cairnews – Italia meraih kemenangan…
#CAIRSCORE Cairbos Gol Akhir Cunha Selamatkan Manchester United, Tekanan untuk Carrick Tak Mereda Cairnews – Manchester United pulang…
#CAIRSCORE Cairbos Brentford Hantam Chelsea 3-0, Alonso Dihadapkan pada Banyak Pekerjaan Rumah Cairnews – Brentford menaklukkan sesama klub London,…
#CAIRSCORE Cairbos Manchester City Pesta Lima Gol di EFL Cup, Floyd Samba Bersinar dalam Debut Cairnews – Manchester…
-
Paris Saint-Germain Tumbang, Kemenangan Atletico Madrid di Menit-menit Terakhir Membuat PSG Tersingkir Dari 24 Besar
-
Kylian Mbappe Resmi Diperkenalkan Sebagai Pemain Baru di Real Madrid
-
GOAT Messi, Pemegang Rekor Peraih Tropi Terbanyak
-
Premier League Musim 2024/2025 Segera Dimulai
-
Ballon d'Or 2024 Jatuh ke Tangan Rodri Menyisihkan Vinicius dan Bellingham
-
Gol Martinez di menit ke-112, Antarkan Argentina Menjadi Juara Copa Amerika 2024
-
Manchester United 2-0 PAOK, MU Raih Kemenangan Perdana di Liga Europa Berkat Brace Amad
-
Harry Kane Membalas Kritikan Dengan Hat-trick dan Pecahkan Rekor Haaland di Bundesliga
-
Mbappe Akhirnya Mencetak Gol dan Membawa Real Madrid Unggul 2-0 Atas Real Betis
-
Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia Akan Dijamu Arab Saudi
-
Meriam London Menggasak Preston 3-0 Tanpa Balas di Piala Liga Inggris
-
Prancis Menyusul Mesir ke Semifinal Sepak Bola Olimpiade Paris 2024
-
Tottenham Buat Langkah Manchester City terhenti di Babak 16 besar Carabao Cup 2024/2025
-
Final Piala Presiden 2024, Arema FC Menantang Borneo FC
-
Mbappe Kembali Gagal Eksekusi Penalti, Real Madrid Kalah 1-2 Kontra Bilbao
-
Bali United Bertengger di Puncak Klasemen Liga 1 Setelah Kalahkan Persis Solo 3-0
-
Ronaldo Mengisyaratkan Tanggal Pensiun, Setelah Mencetak 910 Gol Dalam Karirnya
-
Liga 1 Indonesia : Semen Padang Ambruk, Borneo FC Berjaya
-
Menang Tipis 1-0 Atas Crystal Palace, Liverpool Bertengger Di Puncak Klasemen Premier League
-
Portugal Menang Tipis 2-1 Atas Kroasia, Ronaldo Capai Rekor 900 Gol