Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Permintaan Maaf Infantino Gagal Redakan Kritik, Inggris dan Jerman Desak Perubahan Besar di FIFA

Cairnews – Presiden FIFA Gianni Infantino telah menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA terkait polemik proyek FIFA Forward Enterprise (FFE). Namun, langkah tersebut belum mampu meredakan kritik dari Inggris dan Jerman yang masih mempertanyakan kepemimpinannya serta mendesak adanya reformasi menyeluruh di tubuh organisasi sepak bola dunia itu.

Dalam pertemuan tertutup pada Kamis, Infantino mengakui adanya kekeliruan dalam komunikasi dan proses konsultasi mengenai proyek FFE yang kini telah dibatalkan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proyek tersebut masih sebatas usulan dan belum pernah ditetapkan sebagai keputusan final.

Permintaan maaf tersebut ternyata belum cukup untuk meyakinkan sejumlah pejabat sepak bola Eropa. Walaupun Infantino masih mendapat dukungan dari sejumlah tokoh sepak bola Afrika, penolakan terhadap kepemimpinannya tetap mengemuka dari asosiasi-asosiasi besar di Eropa, khususnya Inggris dan Jerman.

Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf, bahkan menyerukan perubahan mendasar dalam kepemimpinan FIFA. Ia menilai reformasi tata kelola yang dibutuhkan organisasi tersebut sulit diwujudkan apabila Infantino masih menduduki jabatan presiden.

Menurut Neuendorf, FIFA membutuhkan pembenahan menyeluruh, mulai dari sistem administrasi hingga mekanisme pengambilan keputusan. Ia menegaskan bahwa perubahan tidak cukup dilakukan melalui penyesuaian prosedur semata, tetapi harus disertai awal baru dalam kepemimpinan organisasi.

Neuendorf juga mempertanyakan cakupan permintaan maaf yang disampaikan Infantino. Menurutnya, penyesalan tersebut lebih berfokus pada kegagalan melibatkan Dewan FIFA dalam pembahasan proyek FFE, bukan pada substansi proyek yang menimbulkan kontroversi.

Ia mengungkapkan bahwa para anggota dewan justru mengetahui keberadaan proyek tersebut melalui pemberitaan media, bukan melalui komunikasi resmi dari pimpinan FIFA. Kondisi ini memperlihatkan adanya persoalan dalam proses konsultasi dan transparansi di lingkungan organisasi. Keluhan serupa, menurut Neuendorf, juga disampaikan oleh perwakilan dari konfederasi sepak bola lainnya.

Sikap kritis juga ditunjukkan Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt. Ia menegaskan bahwa Infantino harus memberikan jawaban yang jelas atas berbagai pertanyaan yang telah diajukan oleh anggota Dewan FIFA. Jika tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, Hewitt menilai kelayakannya untuk tetap memimpin FIFA patut dipertanyakan.

Hewitt menekankan bahwa jabatan presiden FIFA membawa tanggung jawab besar untuk menjelaskan setiap keputusan yang diambil. Baginya, permintaan maaf saja tidak cukup tanpa keterbukaan mengenai proses dan alasan di balik kebijakan yang menuai kontroversi.

Ia juga meminta agar dokumen-dokumen terkait proyek FFE dibuka kepada anggota dewan. Menurut Hewitt, pengakuan Infantino atas kesalahan dalam proses konsultasi seharusnya diikuti dengan langkah nyata untuk memberikan akses terhadap informasi yang diperlukan.

Hewitt mengingatkan bahwa seluruh anggota memiliki tanggung jawab fidusia untuk memastikan organisasi dikelola secara transparan dan akuntabel. Karena itu, ia meminta Infantino menjawab berbagai pertanyaan yang telah disampaikan secara terbuka, mengingat jumlah persoalan yang perlu dijelaskan cukup banyak.

Menurutnya, apabila memang tidak ada hal yang perlu disembunyikan, FIFA seharusnya bersedia membagikan dokumen FFE kepada para anggota dewan. Keterbukaan tersebut dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan sekaligus memastikan bahwa keputusan organisasi dapat dipertanggungjawabkan.

Pembahasan mengenai reformasi FIFA turut menjadi bagian penting dalam pertemuan tersebut. Namun, Hewitt berpendapat bahwa perubahan yang efektif tidak mungkin dilakukan sebelum seluruh anggota memahami bagaimana keputusan-keputusan kontroversial diambil dan apakah prosedur yang berlaku telah dijalankan dengan benar.

Selain proyek FFE, ia menyoroti sejumlah persoalan lain yang menurutnya membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Di antaranya adalah keputusan untuk mencabut hukuman larangan bermain otomatis satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah di Piala Dunia, serta keputusan FIFA memberikan FIFA Peace Prize atau Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Hewitt menilai FIFA perlu memastikan apakah kontroversi tersebut muncul akibat kegagalan tata kelola dan pelanggaran prosedur, atau karena faktor lain meskipun mekanisme organisasi telah dijalankan. Menurutnya, pemahaman yang menyeluruh terhadap proses pengambilan keputusan menjadi landasan utama sebelum evaluasi dan perbaikan dapat dilakukan.

Tanpa penjelasan yang memadai, ia khawatir upaya reformasi hanya akan didasarkan pada dugaan, bukan pada fakta dan evaluasi yang objektif. Oleh karena itu, keterbukaan informasi dinilai sebagai langkah awal yang tidak bisa diabaikan dalam memperbaiki tata kelola FIFA.

Meski kritik terhadap Infantino semakin kuat dari Inggris dan Jerman, dukungan terhadap presiden FIFA tersebut masih datang dari sejumlah pihak. Salah satunya adalah Ahmed Yahya, Presiden Federasi Sepak Bola Mauritania (FFRIM), yang membela rekam jejak kepemimpinan Infantino.

Yahya menilai Infantino telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan sepak bola di berbagai belahan dunia. Ia menyoroti peningkatan dukungan pendanaan bagi asosiasi sepak bola nasional serta perluasan format Piala Dunia menjadi 48 tim sebagai bagian dari upaya mengembangkan olahraga tersebut secara global.

Ia juga menegaskan bahwa negara-negara Afrika masih memandang Infantino sebagai sosok yang tepat untuk melanjutkan kepemimpinannya di FIFA. Ketika ditanya apakah mayoritas pihak menginginkan Infantino tetap menjabat, Yahya menyatakan keyakinannya bahwa dukungan terhadap sang presiden masih dominan.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa posisi Infantino masih mendapat dukungan dari sebagian anggota FIFA, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan serius dari sejumlah asosiasi sepak bola Eropa. Permintaan maaf terkait proyek FFE belum mengakhiri polemik, sementara tuntutan transparansi, pertanggungjawaban, dan reformasi kepemimpinan terus mengemuka. Ke depan, kemampuan Infantino memberikan penjelasan yang memadai atas berbagai pertanyaan anggota dewan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kepercayaan terhadap kepemimpinannya.

HOT NEWS

TRENDING

Michael Carrick Tak Butuh Janji Manajemen, Kemenangan Jadi Harga Mati

Manchester City Bungkam Liverpool 3-0 di Tengah Bayang-Bayang Skandal Finansial

Italia Bangkit di Bursa, Hujan Gol Mengantar Kemenangan 4-1 atas Turki

Gol Akhir Cunha Selamatkan Manchester United, Tekanan untuk Carrick Tak Mereda

Brentford Hantam Chelsea 3-0, Alonso Dihadapkan pada Banyak Pekerjaan Rumah

Scroll to Top