Cairnews Cairbos Berita Bola Terkini

#CAIRSCORE    Cairbos

Amarah Bompastor di Stamford Bridge: Arsenal Singkirkan Chelsea, Melaju ke Semifinal Liga Champions Wanita

 

Cairscore Sonia Bompastor tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Pelatih Chelsea itu meninggalkan Stamford Bridge pada malam Rabu dengan perasaan perih yang sulit diungkapkan dengan kata-kata — bukan semata karena timnya tersingkir dari Liga Champions Wanita, tetapi karena ia meyakini bahwa deretan keputusan wasit yang buruk telah merampas tiket semifinal yang seharusnya menjadi milik pasukannya. Arsenal melaju ke babak empat besar dengan keunggulan agregat 3-2 meskipun takluk 0-1 di kandang Chelsea malam itu, dan kepedihan yang dirasakan kubu tuan rumah terasa jauh melampaui sekadar kekalahan biasa.

Laga leg kedua ini memang bukan pertandingan yang mudah untuk ditelan siapapun. Pertandingan berlangsung dalam tekanan luar biasa, penuh peluang yang terbuang, drama pembatalan gol, dan momen-momen yang menguras adrenalin hingga detik-detik terakhir. Chelsea yang tampil sebagai tuan rumah mendominasi jalannya pertandingan, namun takdir seolah enggan berpihak kepada mereka. Puncaknya, Bompastor diusir dari lapangan pada injury time setelah Katie McCabe, pemain Arsenal, terlihat menarik rambut Alyssa Thompson tanpa mendapat sanksi apapun dari wasit. Sebuah pemandangan yang langsung memantik amarah sang pelatih.

“Jika VAR lagi-lagi tidak dapat memeriksa situasi itu, saya tidak tahu mengapa kita memiliki VAR,” ujar mantan pelatih Lyon itu dengan nada yang jelas memendam frustrasi. Kemarahan Bompastor tidak hanya tertuju pada insiden malam itu saja. Ia menarik garis merah yang menghubungkan dua leg sekaligus — termasuk keputusan kontroversial di leg pertama pekan lalu di Emirates, ketika sebuah gol Chelsea dianulir dalam kekalahan 1-3 yang ia nilai menentukan keseluruhan perjalanan agregat. “Jika Anda melihat semua keputusan, leg pertama dan leg kedua, itu juga bagian dari hasil akhirnya. Itulah perbedaan antara lolos dan tidak lolos,” tegasnya. “Para pemain saya, mereka tidak pantas mendapatkan tingkat kepemimpinan wasit seperti itu.”

Senada dengan sang pelatih, bek andalan Chelsea sekaligus internasional Inggris, Lucy Bronze, turut angkat bicara. Bagi Bronze, leg pertama di Emirates adalah titik yang terasa paling menyakitkan. “Leg pertama itu menghancurkan kami,” katanya. Pernyataan itu merangkum sebuah kegetiran yang lebih dalam — Chelsea telah mendominasi sepak bola wanita domestik Inggris selama hampir satu dekade terakhir, namun trofi Liga Champions tetap saja menjauh dari jangkauan mereka. Penantian panjang itu terus berlanjut, dan malam di Stamford Bridge ini hanyalah satu lagi halaman pahit dalam babak yang belum tuntas.

Di sisi lain, Arsenal berhak merayakan pencapaian luar biasa ini dengan kepala tegak. The Gunners memang tidak tampil sempurna, tetapi mereka menunjukkan ketangguhan mental yang tidak bisa diremehkan. Mereka menjaga jarak dan pertahanan dengan disiplin hingga akhir pertandingan yang teramat menegangkan, bahkan di saat Chelsea terus menghantam gawang mereka bertubi-tubi. Kapten Arsenal, Kim Little, menyambut tiket semifinal itu dengan ambisi yang sudah terpelihara sejak musim lalu. Musim lalu, Arsenal mengakhiri penantian panjang 18 tahun untuk merasakan gelar juara Liga Champions wanita dari Inggris ketika mereka mengejutkan Barcelona di partai final. Kini, mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih besar lagi. “Akan menyenangkan jika bisa melakukannya dua tahun berturut-turut, kami akan memberikan semua yang kami bisa,” kata Little.

Jalannya pertandingan malam itu memang merupakan sebuah tontonan yang mendebarkan. Kedua tim bermain dengan intensitas tinggi dan menciptakan peluang yang, dalam kondisi normal, seharusnya berbuah banyak gol. Chelsea berulang kali mengancam gawang Daphne van Domselaar — Lauren James melepaskan tembakan keras yang ditepis dengan gemilang oleh kiper Belanda itu, lalu Veerle Buurman menyambut bola rebound namun hanya berhasil membentur tiang gawang meski gawang sudah menganga tak terjaga. Beberapa saat berselang, Van Domselaar kembali tampil heroik dengan membelokkan sundulan Sjoeke Nusken ke tiang gawang. Di sisi Arsenal pun, Beth Mead turut merasakan pahitnya bola yang memantul dari tiang ketika ia berusaha memanfaatkan serangan balik di tengah keputusasaan Chelsea.

Momen yang paling dramatis hadir ketika Stina Blackstenius sepertinya telah menutup pertandingan dengan sundulan indah sepuluh menit sebelum waktu normal berakhir. Namun VAR turun tangan, dan setelah pemeriksaan yang memakan waktu, gol itu dianulir karena offside tipis. Keputusan itulah yang menjadi percikan semangat bagi Chelsea untuk bangkit. Seluruh stadion terguncang, tuan rumah melancarkan serangan demi serangan, dan suasana Stamford Bridge berubah menjadi padang pertempuran yang riuh. Tetapi gawang Arsenal tetap bertahan.

Gol semata wayang malam itu akhirnya lahir empat menit memasuki waktu tambahan — dan ironisnya, justru datang dari kaki Chelsea. Nusken menyambut umpan silang Sam Kerr dan melepaskan tembakan keras ke tiang dekat, merobek gawang Arsenal. Namun itu sudah terlambat. Gol tersebut hanya menjadi pemanis pahit bagi tuan rumah, karena agregat 3-2 untuk Arsenal sudah tidak bisa diubah lagi.

Arsenal kini menanti lawan di babak semifinal, yaitu pemenang dari duel antara Lyon — juara delapan kali — melawan Wolfsburg. Saat leg kedua pertandingan tersebut digelar di Prancis pada hari Kamis, tim Jerman itu masih unggul 1-0. Di sisi lain bagan, Bayern Munich memastikan langkah mereka ke semifinal setelah menyingkirkan Manchester United dengan agregat telak 5-3, dan hampir pasti akan berhadapan dengan Barcelona yang melumat Real Madrid 6-2 di leg pertama mereka.

Liga Champions Wanita musim ini terus menapaki babak-babak yang semakin menggigit. Arsenal membawa beban sejarah dan ambisi juara bertahan ke semifinal, sementara Bompastor dan Chelsea harus menelan kenyataan bahwa jalan mereka menuju puncak Eropa masih harus menunggu — diiringi rasa pahit yang, seperti diakui sendiri oleh sang pelatih, tidak sepenuhnya terasa adil.

HOT NEWS

TRENDING

Malam Gemilang di Madrid: Bayern Tundukkan Raja Eropa, namun Mbappe Pastikan Pertempuran…

Flick Angkat Bicara: Yamal yang Emosional Adalah Berkah, Bukan Beban bagi Barcelona

Santiago Bernabeu Menanti: Real Madrid Taruhkan Warisan, Bayern Munich Datang dengan Lapar…

Gol Sundulan Belati Muriqi di Menit Tersisa Kubur Asa Madrid, Los Blancos…

Haaland Menghancurkan Segalanya: Hat-trick Mesin Norwegia Kubur Liverpool dalam Mimpi Buruk yang…

Scroll to Top