#CAIRSCORE Cairbos
Dari Puncak Eropa ke Jurang League One: Kejatuhan Tragis Leicester City yang Tak Terbendung
Cairscore – Suasana di King Power Stadium, Selasa malam 22 April 2026, bukan lagi sekadar kekecewaan biasa. Itu adalah momen perpisahan yang menyakitkan — bukan dengan satu musim yang buruk, melainkan dengan sebuah era, dengan sebuah mimpi yang pernah membuat seluruh dunia sepak bola berdecak kagum. Leicester City, mantan juara Liga Premier Inggris yang pernah menggemparkan jagat raya dengan gelar mustahil mereka, resmi terdegradasi ke League One, divisi ketiga sepak bola Inggris. Untuk kali ketiga dalam empat musim terakhir, The Foxes harus merasakan pahitnya turun kasta.
Pertandingan melawan Hull City malam itu sejatinya adalah pertandingan hidup mati bagi Leicester. Mereka mutlak membutuhkan kemenangan untuk menjaga — setidaknya secara matematis — peluang mereka bertahan di Championship. Namun sepak bola, seperti yang telah berulang kali diajarkan kepada para pendukung Leicester dalam beberapa tahun terakhir, tidak selalu berpihak pada mereka yang paling membutuhkannya.
Babak pertama sempat memberikan sedikit harapan. Liam Millar membuka keunggulan bagi tamu, Hull City, membuat tensi di tribun semakin menegang. Namun Leicester merespons dengan semangat yang terlihat di wajah para pemain yang sadar betul apa artinya pertandingan ini. James Justin melangkah maju dan menuntaskan penalti dengan tenang untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Sesaat, nyawa Leicester seolah masih bisa diselamatkan.
Di babak kedua, Luke Thomas membawa tuan rumah berbalik unggul. Gol itu memantik ledakan kecil di tribun, para pendukung Leicester yang setia mengangkat suara mereka satu kali lagi, menggenggam erat harapan yang sudah begitu tipis. Kedudukan 2-1 untuk Leicester seolah menjanjikan — namun janji itu hancur berantakan ketika Oli McBurnie menceploskan bola ke gawang tuan rumah di momen yang paling tidak diinginkan. Imbang 2-2. Peluit akhir berbunyi. Dan nasib Leicester pun tersegel.
Dengan hasil itu, jarak Leicester dari zona aman Championship melebar menjadi tujuh poin, sementara hanya tersisa dua pertandingan yang bisa dimainkan. Secara matematis maupun secara rasa, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Leicester City akan bermain di League One musim depan.
Bagi siapa pun yang mengenal sejarah klub ini, angka-angka itu terasa seperti tamparan keras di tengah wajah. Ini bukan sekadar degradasi ketiga dalam empat musim. Ini adalah penurunan bebas dari puncak yang benar-benar pernah mereka raih. Pada musim 2015-2016, Leicester City melakukan hal yang oleh banyak kalangan disebut sebagai keajaiban olahraga terbesar abad ini — menjuarai Liga Premier Inggris dengan peluang yang menurut para bandar taruhan adalah 5000 banding 1. Claudio Ranieri, Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N’Golo Kanté — nama-nama itu terukir dalam sejarah. Musim berikutnya, mereka bahkan melangkah jauh ke perempat final Liga Champions, berduel dengan para raksasa Eropa. Pada 2021, mereka menambah trofi Piala FA, membuktikan bahwa gelar liga itu bukan sekadar keberuntungan semata.
Namun kejayaan itu ternyata berdiri di atas fondasi yang rapuh. Kesalahan demi kesalahan dalam pengelolaan klub mulai menampakkan wujud aslinya. Pengeluaran yang tidak terkendali berujung pada sanksi pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan Financial Fair Play — hukuman yang langsung merobek pertahanan mereka di tabel klasemen. Jamie Vardy, sang ikon yang menjadi simbol perlawanan dan semangat Leicester, akhirnya pergi meninggalkan klub. Pergantian pelatih terjadi dalam kondisi yang semakin kacau: Marti Cifuentes dipecat di tengah jalan, dan Leicester menunjuk Andy King sebagai pelatih interim sebelum akhirnya mendatangkan Gary Rowett untuk mencoba membalikkan keadaan.
Rowett, pelatih berpengalaman yang sudah kenyang melatih di divisi-divisi bawah Inggris, tampaknya datang terlambat untuk sebuah kapal yang sudah terlalu dalam tenggelam. Dari 12 pertandingan yang ia tangani, Leicester hanya mampu meraih satu kemenangan. Satu. Sebuah angka yang mencerminkan betapa dalamnya krisis yang melanda klub ini — bukan hanya krisis teknis di atas lapangan, tetapi krisis keyakinan, struktur, dan identitas.
Seusai pertandingan melawan Hull, Rowett berbicara dengan nada yang berat namun jujur. Ia menegaskan bahwa Leicester harus belajar dari apa yang telah terjadi dan menerima kenyataan pahit ini dengan kepala tegak. Tidak ada alasan berlebihan, tidak ada kambing hitam yang ditunjuk secara terbuka — hanya pengakuan bahwa situasi ini adalah konsekuensi dari serangkaian keputusan yang salah selama bertahun-tahun, dan bahwa jalan ke depan hanya bisa dilalui dengan kerendahan hati dan kerja keras.
Sementara Leicester tenggelam dalam duka, Championship malam itu juga menyajikan cerita-cerita lain yang tidak kalah dramatis. Coventry City merayakan gelar juara dengan kemenangan telak 5-1 atas Portsmouth, memastikan tiket promosi mereka ke Liga Premier dengan penuh gaya. Millwall juga tampil mengesankan dengan menundukkan Stoke City 3-1 di kandang lawan. Di laga lain, Southampton berbagi angka 2-2 dengan Bristol City, sebuah hasil yang memiliki implikasinya sendiri dalam perebutan posisi di papan klasemen.
Namun sorotan malam itu, mau tidak mau, tetap tertuju pada Leicester. Pada sebuah kota yang sepuluh tahun lalu mengangkat trofi Liga Premier ke langit dan percaya bahwa segalanya mungkin terjadi. Kini, para pendukung yang sama harus menerima kenyataan bahwa perjalanan mereka berlanjut di League One — bukan di Anfield, Etihad, atau Old Trafford, melainkan di lapangan-lapangan yang lebih sunyi, dengan lawan-lawan yang jauh dari bayang-bayang Eropa.
Kejatuhan Leicester City bukan hanya kisah tentang sebuah tim yang gagal. Ini adalah peringatan keras tentang betapa cepatnya puncak bisa berubah menjadi jurang, tentang betapa mahalnya harga sebuah kesombongan manajemen, dan tentang betapa sepak bola tidak pernah berhutang budi pada siapa pun — bahkan pada mereka yang pernah melakukan keajaiban.
-
24 Apr 2026Kemenangan Pahit Barcelona: Tiga Poin untuk La Liga, Tapi Yamal Terkapar di Camp Nou
-
22 Apr 2026Nestapa Tanpa Akhir: Brighton Lumat Chelsea 3-0, Rosenior di Ujung Tanduk Krisis Paling Kelam
-
22 Apr 2026Dari Puncak Eropa ke Jurang League One: Kejatuhan Tragis Leicester City yang Tak Terbendung
-
21 Apr 2026Di Matteo Desak Chelsea Rekrut Pemain Berpengalaman dan Beri Rosenior Kepercayaan Penuh untuk Musim Depan
-
20 Apr 2026Tiga Gol dalam Tujuh Menit dan Satu Gelar ke-35: Bayern Munich Kembali Berdiri di Puncak Bundesliga
-
20 Apr 2026Van Dijk Pecahkan Jantung Derby Merseyside di Menit 100, Liverpool Kokoh Mengincar Liga Champions
-
16 Apr 2026Dembele Tak Terbendung, PSG Hancurkan Mimpi Terakhir Salah di Anfield
-
16 Apr 2026Menembus Rasa Sakit: Kompany Siapkan Bayern Munich untuk Malam Paling Menentukan Melawan Real Madrid
-
15 Apr 2026Dari Mimpi LeBron dan Neymar, Lamine Yamal Berjanji Membakar Metropolitano
-
13 Apr 2026Lille Gulung Toulouse dan Rebut Kembali Posisi Ketiga, Marseille Terancam Kehilangan Tiket Liga Champions
HOT NEWS
TRENDING
#CAIRSCORE Cairbos Nestapa Tanpa Akhir: Brighton Lumat Chelsea 3-0, Rosenior di Ujung Tanduk Krisis Paling Kelam Cairscore –…
#CAIRSCORE Cairbos Dari Puncak Eropa ke Jurang League One: Kejatuhan Tragis Leicester City yang Tak Terbendung Cairscore –…
#CAIRSCORE Cairbos Di Matteo Desak Chelsea Rekrut Pemain Berpengalaman dan Beri Rosenior Kepercayaan Penuh untuk Musim Depan Cairscore…
#CAIRSCORE Cairbos Tiga Gol dalam Tujuh Menit dan Satu Gelar ke-35: Bayern Munich Kembali Berdiri di Puncak Bundesliga …
#CAIRSCORE Cairbos Van Dijk Pecahkan Jantung Derby Merseyside di Menit 100, Liverpool Kokoh Mengincar Liga Champions Cairscore –…
-
GOAT Messi, Pemegang Rekor Peraih Tropi Terbanyak
-
Kylian Mbappe Resmi Diperkenalkan Sebagai Pemain Baru di Real Madrid
-
Premier League Musim 2024/2025 Segera Dimulai
-
Paris Saint-Germain Tumbang, Kemenangan Atletico Madrid di Menit-menit Terakhir Membuat PSG Tersingkir Dari 24 Besar
-
Ballon d'Or 2024 Jatuh ke Tangan Rodri Menyisihkan Vinicius dan Bellingham
-
Harry Kane Membalas Kritikan Dengan Hat-trick dan Pecahkan Rekor Haaland di Bundesliga
-
Gol Martinez di menit ke-112, Antarkan Argentina Menjadi Juara Copa Amerika 2024
-
Prancis Menyusul Mesir ke Semifinal Sepak Bola Olimpiade Paris 2024
-
Meriam London Menggasak Preston 3-0 Tanpa Balas di Piala Liga Inggris
-
Tottenham Buat Langkah Manchester City terhenti di Babak 16 besar Carabao Cup 2024/2025
-
Final Piala Presiden 2024, Arema FC Menantang Borneo FC
-
Mbappe Akhirnya Mencetak Gol dan Membawa Real Madrid Unggul 2-0 Atas Real Betis
-
Manchester United 2-0 PAOK, MU Raih Kemenangan Perdana di Liga Europa Berkat Brace Amad
-
Bali United Bertengger di Puncak Klasemen Liga 1 Setelah Kalahkan Persis Solo 3-0
-
Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia Akan Dijamu Arab Saudi
-
Liga 1 Indonesia : Semen Padang Ambruk, Borneo FC Berjaya
-
Menang Tipis 1-0 Atas Crystal Palace, Liverpool Bertengger Di Puncak Klasemen Premier League
-
Ronaldo Mengisyaratkan Tanggal Pensiun, Setelah Mencetak 910 Gol Dalam Karirnya
-
Mbappe Kembali Gagal Eksekusi Penalti, Real Madrid Kalah 1-2 Kontra Bilbao
-
Portugal Menang Tipis 2-1 Atas Kroasia, Ronaldo Capai Rekor 900 Gol